Jumat, 22 Agustus 2008

BENARKAH 2008 BUKAN 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL ?


Sejujurnya saya begitu kaget setelah membaca artikel yang termuat di situs http://eramuslim.com Ada 2 (dua) artikel yang membahas tentang Hari Kebangkitan Nasional. Kedua artikel tersebut saling berhubungan satu sama lainnya. Bagaimana saya tidak akan kaget setelah membaca artikel tersebut ? Saya adalah orang awam yang tidak tahu seluk-beluk sejarah apatah lagi ahli sejarah. Selama ini setiap tanggal 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional dan tahun 2008 ini genap 100 tahun.

Pada artikel pertama yang bertajuk 2008: Bukan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bahwa Kebangkitan Nasional itu berangkat dari pemahaman terjadinya pada tahun 1908 yakni berdirinya organisasi Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908. Ini sungguh memilukan. Sebab BO sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak berdiri di atas paham kebangsaan, melainkan paham chauvinistis sempit di mana hanya orang Jawa dan Madura yang boleh menjadi anggota, sama sekali tidak menghargai bahasa Melayu sebagai bahasa asal dari bahasa Indonesia karena di dalam rapat-rapat resmi maupun di dalam anggaran dasar maupun anggaran rumah tangganya BO mempergunakan bahasa Belanda. Selanjutnya dalam artikel tersebut mengungkapkan bahwa BO mendukung status-qou yang berarti mendukung penjajahaan Balanda atas Bumi Pertiwi ini. Para tokoh BO merupakan tokoh-tokoh Freemasony bentukan Belanda ( Vritmejselareen ). Jelas, tanggal pendirian BO sama sekali sangat tidak pantas dan tidak berhak dijadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional.

Pada artikel kedua bertajuk 20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional. Saya lebih tercengang lagi. Dalam artikel tersebut lebih lanjut mengungkapkan bahwa, di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan. Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya... Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ” Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.

Selanjutnya memaparkan, bahwa Hari Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober , hari berdirinya Syarikat Islam (SI), bukan 20 Mei. Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan BO— sebagai berikut : - SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya. BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2). -SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia. BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura. - SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia. BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda. - SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda. BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda.- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya. BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman). - SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan. BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan. - Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat. Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul. - SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan. BO bersifat feodal dan keningratan, - SI berjuang melawan arus penjajahan. BO menurutkan kemauan arus penjajahan.- SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905. BO baru lahir pada 20 Mei 1908.

Setelah membaca kedua artikel ini, menjadikan hati saya tercenung. Hemat saya, Seyogyanyalah Pemerintah bersama pakar sejarah dan pengamat sejarah sesegranya meninjau atau meneliti kembali khususnya tentang Hari Kebangkitan Nasional ini dan umumnya hari-hari besar Nasional lainnya. Sebab kita ingin bangsa dan Negara Indonesia yang tercinta ini agar jangan selalu salah langkah di jalan sejarah. Semoga.***

Arsyad Indradi (http://arsyadindradi.blogspot.com)

4 komentar:

kosongempatsembilan mengatakan...

Wah. Kalau ternyata apa yang dipaparkan bahwasnya yang sentimen kesukuan itu benar. Maka negara ini tidak layak lagi dipertahankan.

Lebih baik antarpulau jadi negara negara saja. Karena buat apa jadi NKRI kalau hari kebangkitan Nasionalnya saja merupakan peringatan fanatisme kesukuan. Bukan nasionalisme.

Namun memang masih belum terbukti sepenuhnya, namun kalaupun ada bukti. Saya malahan pesimis pemerintah mau mengungkapkan fakta. Apapun itu faktanya.

Rierie mengatakan...

Wahhhhh... kalo di kalimantan timur, udah lama pengen jadi negara sendiri... habisnya capeeekkkk.. 80% minyak, gas, batu bara di ambil pusat. Kita cuma dapet 20% trus dicuekinnnn ( Huh...Bunda sok ngerti yach..wakwkakak)

Fajar Indra mengatakan...

Benarkah???

Benaarrr, dari dulu Indonesia ga bangkit-bangkit deh perasaan...

-__-

Happy in Doha - Qatar mengatakan...

Trus gimana dhonk Ooom...mengajarkan ke anak-anak di rumah untuk mencintai tanah air Indonesia Jaya klo' semua serba kabur baca buram gitu hehe...... saya beneran lagi bingung deh..apalagi mereka besar diluar negeri sementara "khubul wathon minal iman" makasih ya Oom..artikel yang menggugah..nice...