Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo Jatim

Jumat, 23 Desember 2011

Arsyad Indradi diundang ke Jilfest 2011

Jakarta International Literary Festival 2011 (jilfest 2011) 2011 telah digelar pada 6 – 9 Desember 20111, bertempat di Hotel Milinium Sirih Jakarta. Jilfest ini diselenggarakan pemerintah DKI jakarta melalui dinas pariwisata dan kebudayaan, bekerjasama dengan komunitas sastra indonesia (KSI) dan komunitas cerpenis indonesia (KCI). Tema yang diangkat ” Sastra dalam Semangat Persaudaraan dan Multikulturalisme ” dan Jilfest mengangkat nilai – nilai Kesastraan Indonesia di dunia Internasional.
Peserta yang terdiri dari negara – negara Amirika Serikat, Jerman, Austria, Jepang, China, Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand dan Indonesia berjumlah seratus peserta yang diundang oleh Panitia Jilfest 2011. Acara Jilfest disamping Seminar Sastra Internasional juga diadakan Pentas Sastra seperti pertunjukan Sastra Lisan Sahibul Hikayat, Musikalisasi Puisi, Pembacaan Puisi, Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Antologi Cerpen Karya Peserta Jilfest, Wisata Budaya dan Workshop Penulisan cerpen, puisi dan musikalisasi puisi.
Sederet nama sastrawan pada pesta pembacaan puisi Sutardji Calzoum Bachri, Dimas Arika Mihardja, Arsyad Indradi, Habiburrahman el-Shirazy,John McGlinn, Berthold Damshauser, Nik Abdul Rakib dll.
Pada acara penutupan memberikan kesan dan pesan dari peserta, Arsyad Indradi wakil peserta Indonesia dan Dr.Nick Abdul Rakib bin Nick Hassan wakil peserta Mancanegara.

Jumat, 23 September 2011

Kenduri di Bukit Meratus

Dimas Arika Mihardja Menari Mandau

Arsyad Indradi

Kenduri di Bukit Meratus

Riangriang semesta hyang di bawah bulan di bawah bintang
Hembus napas angin malam
Titian mandurisa buka padang mandurasi
Buka pintu hati merah buka pintu hati putih
Rubuh rebah kayu talikan membuka seluasluas jagat
Dangsanak, Dam beta empunya diri dari tanah pilih
Tanah sekencurjariangau lempung meratus

Di gigir bukit berdiri kaki tunggal
Mendamak anak sima dimasa silam mengayau bumburaya
Menato rawi usia di batubatu punggung bukit
melayat sekian lengser matahari menutup padang senja di pancur airmata
menyimpan suka di guasukma melarutkan lara di guntungluka

Di batas antara rimba dan perbukitan
Dam beta empunya diri gerincing gelang bawu
Menyayapkan ruh limapuluhdua bulu anggang lalu diterbangkan
Puncak bukit membuncah langit

Dinihari
Halimun di parangmaya surya
Balianbalian pada terjaga dari balai adat pusaka
Bertuak di asap kemenyan putih melayang ke puncak bukit

Dam empunya diri dari tanah pilih lempung meratus
Bersayap limapuluh dua bulu anggang
Surup membuka lembayung surya pagi


kssb, 2011
Kado ultah dari Bukit Meratus buat Dimas Arika Mihardja (Dam)


Catatan :
Riangriang = ujaran (bhs dewa)
hyang = Dewa penguasa alam
Titian mandurisa = jembatan (jalan) panjang.
padang mandurasi = padang yang luas
kayu talikan = sejenis pohon beringin
Dangsanak = saudara (kekerabatan)
sekencurjariangau = ungkapan ada tali hubungan kekeluargaan
guntung = anak sungai
gelang bawu = gelan para balian
parangmaya = sejenis santet
Balian = dukun/orang sakti suku dayak
Mendamak = menyumpit/ sumpitan
anak sima = hantu sebangsa tuyul (mengisap darah)
mengayau = memotong kepala secara sembunyi
bumburaya = sebangsa raksasa pemakan mayat
rawi = riwayat

Cahya Surya Mengapung di Pasar Terapung

Arsyad Indradi

Cahya Surya Mengapung di Pasar Terapung
: A – Y

Riak arus sungai Martapura memanggil surya
Gemerlap di puncak ombak mengombak
Cahya di rerumpun bunga ilung mengapung
Merkah didendang kayuh jukungjukung

Dari penjuru sungai kehidupan pun lalu merapat
Melahirkan pasar terapung di dermaga Lok Baintan
Tiada letih mengikat angkat budaya leluhur
Tanah Banjar nan elok dan masyhur

Aku merasa tiada pernah merasakan lagi senja
Pada diriku disini di subuh ini katamu
Fantastik pandangan mata berenang di kaca surya
Aku suka perempuanperempuan murni bersahaja
Di bawah tudung tanggui pesona adat budaya

Kita pun masih mengapung di atas sungai
Seperti tiada mau beranjak dari usainya pasar terapung
Murung bergayut di bola mata
Mengantar satusatu jukung lepas dari dermaga

Kau lalu menyibak air memecah sunyi
Kita merapat membangun dermaga di hati bisikmu
Membangun pasar terapung di alir darah kita
Nafas seanginangin pagi di nafas
Agar senantiasa fantasiaku bermakna sampai ujung usia

Banjarbaru, 19 Sep 2011


Arsyad Indradi - Yvonny De Fretes ( di Pasar Terapung Lok Baintan Kabupaten Banjar Kalsel,seusai Aruh Sastra VIII Kalsel di Barabai HST, 16-19 Sep 2011 )

Sabtu, 11 Juni 2011

Arsyad : Kasihan Kesultanan Banjar



Setelah seniman Sirajul Huda yang mengaku tak diminta izin tarian “Japin Rantawan”
ciptaannya dibawakan tim Kesultanan Banjar di “Tong Tong Fair” Belandan, giliran seniman Kalsel Arsyad Indradi mengaku hal sama. Arsyad Indradi selaku pencipta Tari Semangat Ratu Zaleha yang dibawakan oleh kesenian Sanggar Kesultanan Banjar, mengaku terkejut tariannya dibawakan. “Saya terkejut. Sebab baru sekarang tahu tarian ciptaan saya itu dibawakan ke Eropah. Saya bangga dan sangat senang mendengarnya” ucap seniman tari ini kepada MK, diBanjarbaru,kemarin (2/6). “Namun saya sangat sangat menyayangkan kepada Tim Kesenian Kesultanan Banjar itu yang tak konfirmasi (izin) terlebih dalu kepada saya sampai keberangkatannya” tambahnya.
Menurut Arsyad, hal ini memberikan kesan buruk kepada pihak Kesultanan. Ia menyatakan itu sebagai ketidaksopanan para Tim Kesenian Kesultanan Banjar.
“Kasihan Kesultanan yang tidak tahu-menahu. Dan dalam hal ini menjadi prasangka yang maca-macam dari berbagai kalangan yang tidak paham. Jika tahu adat-istiadat, tentunya Tim Kesenian Kesultanan Banjar ini akan bapadah.” Sesungguhnya aku bukan ingin dihormati ataupun disangka ingin “bakasak” ikut tetapi seyogyanyalah bapadah kepada koreorafernya,”ucapnya.
Arsyad bahkan mengaku berterima kasih dan mengizinkan dengan tulus bila minta izin.”Sebab bagaimanapun juga ini menyangkut nama penciptanya, manakala dibacakan sinopsisnya dan nama koregrafernya sebelum tarian itu ditampilkan. Apalagi setelah diketahui bahwa penari Tim Kesenian Kesultanan Banjar itu penari pemula yang baru belajar, tidak profisional.” ujar Arsyad yang juga dikenal sebagai penyair.
Bahkan Arsyad agak was-was, jangan-jangan ragam gerak Tari Semangat Ratu Zaleha keliru dan tidak menyebutkan namanya sebagai penciptanya atau diganti dengan nama orang lain “Karena aku mengetahui pelatih tari dan semua penarinya bukan penari profisional alias pemula,”ucapnya.
Seharusnya,lanjut Arsyad, Tim Kesenian Kesultanan Banjar (yang bertanggung jawab) memunculkan batang hidungnya guna meminta izin sebelum keberangkatan. “Sebenarnya kejadian ini adalah pembelajaran bagi kita semua bahwa kita harus selalu menjunjung tinggi hak cipta dan menghargai hasil karya seniman. Maaf, bukan seniman dadakan atau seniman tempelan. Agar seni Budya Banjar dan Adat-istiadat Tanah Banjar selalu lestari. Semoga”,pungkasnya ( ananda-kmk).

Sumber : Harian Media Kalimantan,Jumat,3 Juni 2011.

Selasa, 31 Mei 2011

Tari Semangat Ratu Zaleha ke Belanda

Temanku menelponku bahwa dia kaget membaca release di Media Kalimantan (aku lupa tanggal terbitnya),Kesultanan Banjar akan ke Eropah (Belanda) dengan tim kesenian tarinya membawakan beberapa tarian salah satunya Tari Semangat Ratu Zaleha. Dia kaget mengira aku ikut berangkat. Sebab baru saja kami bertemu di rumahku dan tidak tersentuh pun pembicaraan hal ini. Dia tahu tarian itu aku yang menciptanya. Balik aku juga kaget, sebab baru sekarang tahu Tarian ciptaanku itu di bawa ke Eropah, sebelumnya Tim Kesenian Kesultanan Banjar itu tak pernah konfermasi (izin) kepadaku sampai keberangkatannya ke Eropah. Aku agak bangga juga Tarian ciptaanku dibawa, namun sayangnya sebelumnya tidak pernah minta izin kepadaku. Jika tahu adat istiadat dan menjunjung tinggi “Pemangku Adat” tentu Tim kesenian Kesultanan Banjar ini akan “bapadah”. Sesunguhnya aku bukan ingin dihormati dan juga tidak ada sedikit pun niatan handak “bakasak” ikut tapi seyogyanyalah “bapadah” kepada kreatornya. Dan sejujurnya aku sangat berterima kasih dan akan mengizinkan dengan tulus. Dalam hal ini aku juga dapat berpartifasi membantu sewaktu penarinya sedang latihan siapa tahu ada hal-hal yang tidak pas dengan kreograferku. Sebab bagaimana pun juga ini menyangkut nama penciptanya manakala dibacakan sinopsis dan nama kreograpernya sebelum tarian itu ditampilkan. Apa lagi setelah kuketahui bahwa penari Tim Kesenian Kesultanan Banjar itu penari “pemula” tidak profisional.
Setelah temanku menelponku,aku menelpon Mama Rima (Isteri Raja Muda Pangeran Khairul Saleh) betapa kagetnya dan diluar pengetahuan beliau. Dalam hal ini beliau minta maaf dan “bapadah”. Aku mengizinkan dan bahkan mengiringi doa restu.. Tetapi aku tetap minta kepada beliau Tim Kesenian Kesultanan Banjar (yang bertanggung jawab) harus datang kepadaku. Ternyata sampai keberangkatan ke Eropah Tim ini tidak nampak batang hidungnya.
Sesungguhnya ini adalah merupakan pembelajaran bagi kita semua bahwa kita harus selalu menjunjung tinggi hak cipta dan menghargai hasil karya seniman ( bukan seniman dadakan ) agar Seni Budaya Banjar dan Adat Istiadat Tanah Banjar selalu lestari. Semoga. (Arsyad Indradi )

Senin, 30 Mei 2011

Saatnya Sastra Kalimantan “Batajak”


Masih Bertenaga.
Arsyad Indradi,penyair asal Banjarbaru,saat membacakan puisi di arena peluncuran dan bedah buku kumpulan puisi “Pendulang,Hitan Pinus, dan Hujan” karya Ahmad Fahrawi dan M.Rifani Djamhari, di Sanggar Tosi,Banjarbaru beberapa waktu lalu. Arsyad Indradi adalah salah satu penyair gaek Kalsel yang hingga hari ini tetap bertenaga, dan aktif dalam berkarya serta kegiatan kesenian. Hasil kerja monumentalnya adalah saat membukukan puisi karya 142 penyair seluruh nusantara, yang kemudian diberi judul “142 Penyair Menuju Bulan”. Di dalamnya terdapat puisi karya Sutardji Calzoum Bachri hingga penyair Kalsel sendiri. Lantaran kerja kerasnya itu pula, Arsyad Indradi diberi gelar “Penyair Gila” oleh para penyair nusantara.(Ananda KMK)
Sumber : Media Kalimantan, Sabtu 28 Mei 2011