Minggu, 17 Agustus 2008

KORELASI MANUSIA DENGAN MANUSIA, MANUSIA DENGAN ALAMDAN MANUSIA DENGAN TUHANNYA

Oleh : Arsyad Indradi

Pada hakekatnya agama apapun mengajarkan dua poros kehidupan utama yakni : hubungan manusia dengan sesama manusia ( habluminnannas ) dan hubungan manusia dengan tuhannya ( hablumminnallah). Seperti juga dalam ajaran Hindu, Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alam lingkungannya, manusia dengan sesamanya. Oleh karena itu jika kita benar – benar menerapkan secara mantap, kreatif dan dinamis dalam kehidupan ini niscaya terwujudlah kehidupan yang harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang astiti bakti terhadap Sanghyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ), cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya.

Masyarakat dunia mulai cemas terhadap : terjadinya persengketaan antar suku bangsa dan antar negara, adanya lubang pada lapisan ozon di antariksa kutub selatan dan kutub utara, pengikisan lapisan ozon di atmosfir Eropah timur, terjadinya pemanasan global, revolusi industri yang mecemari sungai, laut dan udara, kepadatan penduduk diperkotaan, pertumbuhan pemukiman yang tak ramah lingkungan, hutan terbakar, penebangan hutan yang semrawut, penambang yang berdampak buruk terhadap lingkungan, kemajuan teknologi yang menimbulkan efek – efek samping yang bersifat biologis, psikologis dan ekologis bagi dasar kehidupan manusia., banjir, tanah longsor, angin puting beliung, gempa tektonik dan lain – lain.

Acara tahunan festival Sastra Internasional Ubud Writers & Readers Festival ( UWRF ) tahun ini, tanggal 14 sampai 19 Oktober 2008 di Ubud Bali, Yayasan Saraswati sebagai tuan rumah. Tri Hita Karana sebagai tema festival tersebut. Tema tersebut hemat saya sangat tepat sekali. Dimana dalam pertemuan itu akan menumbuhkan dan membangkitkan sadar akan hubungan manusia dengan sesamanya. Manusia saling mengasihi walaupun berbeda keturunan, ras, suku bangsa, dan negara tetapi ikatan silaturrahmi yang erat sesama makhluk yang diciptakan Tuhan,. Hubungan yang harmonis sesama manusia menciptakan perdamaian dunia, jauh dari segala persengketaan. Tidak akan terjadi malapetaka dan bencana alam jika manusia itu ramah terhadap alam, ramah terhadap lingkungannya, menjaga kelestariannya. Betapa indahnya isi dunia ini dengan alamnya yang elok, semua ini adalah karunia Tuhan. Kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan ketinggian teknologi adalah anugerah Tuhan yang berfungsi untuk memperindah dan memperelok alam ini.

Ilmu pengetahuan dan teknologi juga untuk memakmurkan kesejahteraan manusia. Menyusun arsitek bangunan fisik dan non fisik dengan memperhatikan alam lingkungan, memahami kebudayaan dan iklim daerah setempat, sesuai dengan fungsi dan aktivitas penghuninya, seleksi bahan bangunan dan mempertimbangkan bangunan bertingkat seperti perumahan, hotel, pertokoan dan perkantoran apalagi menggunakan kaca agar jangan terjadi dampak pada struktur tanah, rotasi udara dan cahaya matahari. Penebangan pohon dan penambang hasil bumi seperti minyak, batu bara, logam murni dan non murni, batu permata, batu, tanah, pasir dan sebagainya harus memperhatikan keselamatan lingkungan. Solusi bagaimana mengatasi limbah industri yang berdampak buruk terhadap lingkungan kehidupan manusia. Dan banyak lagi yang perlu kita sadari untuk menjaga kelestarian alam ini. Mudah – mudahan pertemuan di Ubud nanti dapat melunasi harapan kita semua. Semoga. ***.

.

1 komentar:

pipiew mengatakan...

Memang yang dibutuhkan sekarang ini adalah pengertian dan toleransi antar agama, suku, adat, dsb. Pengertian akan pentingnya hubungan antar manusia setelah hubungan kepada Sang Khalik. Semoga, usaha untuk mewujudkan "saling pengertian" pada bulan Oktober mendatang berhasil tercapai, demi terwujudnya kerukunan manusia dan perdamaian dunia.