
Selama bekerja di dusun itu, TITA tak pernah makan nasi di siang hari. Jatahnya hanya dua lembar roti. Itu pun kalau ia sudah menyelesaikan tugas rutin di pagi hari : menyapu, membersihkan halaman, kolam, menyiram bunga. Kalau belum selesai ia Cuma diberi selembar roti.
Untuk mendapatkan semangkok nasi, TITA harus berjuang keras sehari penuh. Baru sekitar pukul 3-4 dini hari, setelah majikan memastikan tidak ada pekerjaan yang tercecer, ia beroleh nasi. TITA dijadikan kelelawar oleh majikannya. Setiap pukul 1 dini hari pergi membuang sampah memakai troller ke luar area rumah. Pernah saking kantuknya ia terpeset dan jatuh, wajahnya terbentur benda keras mulutnya berdarah dan gigi depannya copot. Dan setiap pukul 2 dini hari, ia berkeliaran di pinggir-pinggir jalan menapaki desa Yuenlong yang sepi, menenteng keranjang rumput mencari rumput segar untuk makanan hewan piaraan. Dan pernah ketika sedang menyetrika , karena kantuknya, ia terlelap persis wajahnya mengenai setrika panas. Wajahnya melepuh. Dari situlah ia memilih menyetrika di pagi hari. Akibatnya ia didenda HK$ 20, dianggap tak mampu menyelesaikan pekerjaan.
TITA tak pernah protes ketika gaji pertamanya hanya tersisa HK$ 3 ( sekitar 3 ribu rp ), karena selain membayar potongan agen, gajinya didiskon majikannya untuk bayar ganti rugi : HK$ 5 jika terlambat bangun, HK$ 20 jika pekerjaan tak kelar, dan untuk beli peralatan mandi.
TITA secara sepihak mendadak di-terminate majikannya dengan alasan ia unfit. Sabtu, 20 Januari 2007, majikannya menggantarkan langsung ke bandara, setelah memberikan paspor dan tiket, sang majikan kabur tanpa memberi pesangon. Jangankan itu, gaji bulan kedua ( gaji akhir ) pun tak ia terima. Padahal sehari sebelumnya, majikannya telah meminta tanda tangan di atas selembar kuitansi, bukti pembayaran gaji sebesar HK$ 3400, tapi duitnya tak diberikan.
Di bandara, kebetulan TITA bertemu BMI, mereka membantu : meng-canscel tiket pesawat, lalu melapor ke Polisi, ambulan pun datang membawanya ke RS Prince Margaret-Mei Fu. Dan diberi suntikan anti-tetanus dan beberapa butir obat.
TITA, gadis malang itu berada di ATKI ( Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia ), memulihkan kesehatannya dan minta bantuan untuk menuntut haknya kepada majikannya. TITA bak sapi perahan, kerja 2 bulan hanya 3 rb rp yang dihasilkan. Menyedihkan.***
Wahai Indonesiaku yang malang yang tak dapat menolong rakyatnya yang sengsara
Indonesiaku yang tak mampu menyediakan lapangan kerja di negerinya sendiri
Indonesiaku yang subur kemiskinan, kemelaratan, pemimpin yang buta dan tuli
Lihatlah langit menangis, matahari tersedu, bulan mengisak, bumi yang tinggal kerangka
Kami menangis tak ada lagi mengalir airmata karena kering sudah airmata
Tak ada lain tempat berharap hanya kepadamu Tuhan, jangan kau sembunyi di balik angan-angan
Tuhan lihatlah,
Tangan kami gemetar menadah, hati kami bergetar, mulut kami tak mampu lagi menyeru namamu karena sudah terlalu lelah
Tuhan perkenankan maksud baik kami. Amin.
*** Arsyad Indradi ***