Selasa, 02 Desember 2008
Arsyad Indradi
Gerimis setiap ada luka
Tapi luka langit mengalirkan
bianglala biasan mata
lantaran gerimis selalu
membasahi setiap langkah kita
Gerimis adalah nestapa
Senantiasa tak pernah beranjak
dari setiap luka
bbaru, 2008
( Puisi ini ku sms kan buat Penyair Jambi Dimas Arika Mihardja dalam " Upacara Gerimis "nya )
Sabtu, 29 November 2008
SAJAK-SAJAK ARSYAD INDRADI DI REPUBLIKA, Ahad, 24 Feb 2008
Siapa membaca syair gurdah
Di tengah malam ketika bulan memancar
Rumahrumah dan pepohonan pada tafakur
Menyingkap liriklirik yang dihampar angin
Mataku berlinangan membaca diri
Di alun terbang
Dalam dendang doa dan pujian
Bulan memancar
Bulan penuh di dalam dada
Memancar Subhanallah
Kemana kita menyempurnakan harapan
Ke sana kita menghadap menyerahkan diri
Banjrbaru, 2006
SENJA LURUH
Dangau sesak dengan cahaya redupredup
Persawahan yang lama terbengkalai
Dia terhampar di atas tumpukan jerami
Duhai lama nian menunggu
Cepatlah lepaskan tali kehidupan
Cepat ambili
Ruh yang turun di atas bumi
Yang mengandung bau cendana
Menghembus liar di padang banta
Langit berawan habiskan selaksa belalang
Terbang menjelajahi padang ilalang
Ambil daku yang membuat cinta
Yang aku sendiri merindu
Penat tiada terkira
Menanggung dalam raga
Duhai ambilkan semua warna ruhku
Ciuman kasih dan nista
Aku silau dalam cahayaku yang lelah
Burungburung kehilangan pengepak sayap
Langit dan hutan membungkus ruhku
Masuk dalam mimpi abadi
Banjarbaru, 2004
MUSAFIR
Tidak lebih yang kupinta cuma doa
Melunaskan airmata harikehari
Yang jatuh ke jejak langkah
Setiap aku menulis risalah
Perjalanan dalam puisi
Doa adalah titian
Penyeberangan
Menuju batas
Kembali ke akhir
Menyempurnakan nafas
Banjarbaru, 2006
KEMARAU
Siapa menghentak kurungkurung
ke penghabisan suara burung
jalan setapak mencari batas
hari beruap panas
menyusur suara keririang memilu
di selasela kayukayuan
sewaktu matahari menusuk
Ketika menyeberang guntung
kau berkata :
Siapa yang menghentak kurungkurung
di penghabisan suara burung
senantiasa panas menggantang
Tanah huma seperti siput dipepes
sunyi tiada berdaya
dalam letupan buah para
dikunyah matahari
Banjarbaru, 2005
Selasa, 25 November 2008
Buku Arsyad

***
Jika inti kepahlawanan adalah kerelaan berkorban untuk bangsanya, maka Arsyad Indradi dan Dinullah Rayes adalah pahlawan sastra. Keduanya rela mengorbankan apa saja untuk ikut memajukan kesastraan bangsanya, tanpa peduli waktu, jarak, dan usia. Apa lagi sekadar berkorban harta, mereka akan rela – rela saja.Karena itulah, ketika menjadi pembicara pada The Ist International Poetry Gathering di Medan tahun lalu, saya sempat mengusulkan agar pemerintah dapat memberikan penghargaan khusus untuk penyair – penyair seperti Arsyad dan Dinullah. Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film, Mukhlis Pa’Eni, yang saat itu tampil sebagai keynote speaker, menyambut baik ide tersebut. Namun, realisasinya memang masih harus kita tunggu.
( Ahmadun Yosi Herfanda )
Dari : Harian Republika, minggu, 24 Februari 2008 dan http://www.republika.co.id
Senin, 17 November 2008
SETANGKAI BUNGA DALAM SERIBU AROMA EKSPRESI CINTA LELAKI BANJAR


Oleh : Diah Hadaning (Warung Sastra DIHA,Bogor)
“ ... Sempurnakan jerit setangkai bunga/Agar mimpi jangan gelisah/Waktu pagi dibasuh tangisan kecil/Tapi aku tak ingin siapa pun/Mengusik ujung kelopaknya/Sebab setiap tetes embun/Adalah suara rintihan riwayat/Kerinduan/ Tak perlu
“ Romansa Setangkai Bunga “ yang diangkat dari judul puisi pertama merupakan ‘pernyataan’ penyair pada dunia (seni) yang mengetengahkan etika dan estetika serta tetap percaya pada kata, modal penting bagi penciptaan puisi.
Jagad kecil dan jagad agung yang menyatu, sang diri dan Tuhannya yang saling tahu, nyata sebentuk keindahan yang tak akan pernah pudar dari jagad kepenyairan seseorang. Semua bisa memesona manusia dalam ‘seruas waktu’ : pagi,embun, bunga, mimpi, kerinduan, tempat, dan jiwa, adalah nuansa percik-percik kasih sayang.
Bagi seseorang, banyak cara untuk mewujudkan mimpi yang menyatu dengan kenyataan serta harapan. Puisi merupakan salah satunya selain sebagai saksi jaman dan saksi perjalanan usia. Bagi Arsyad Indradi ( Barabai, 1949 ), puisi mempunyai makna yang cukup pribadi. Manusiawi jika seorang penyair juga ingin mengenang masa muda, bagian awal dari perjalanan panjang anak manusia dalam menjalani kehidupan. Tentu saja termasuk di dalamnya, persahabatan – karunia yang memperkaya jiwa – dan juga kebersamaan yang selalu menambah pengalaman, itu memberi nuansa kebahagiaan tersendiri.
Hal-hal itulah yang ingin dituangkan penyair dalam antologi puisinya berisi 85 judul bertajuk ‘ Romansa Setangkai Bunga ‘. Menikmati ‘ bunga rampai album puisi cinta Arsyad Indradi’ yang bertitimangsa periode 1970 – 1979, 1980 – 1988, 1993 – 1998, dan 2000 – 2006, pembaca dibawa memasuki taman bunga dunia kata. Yang terhampar adalah warna-warna yang elok, bersih, dan santun. ‘Pakem’ perpuisian merupakan suatu nilai yang tetap dipertahankan sang penyaair.
Sebagai puisi bernuansa cinta tentu banyak ungkapan tentangnya seperti terwakili dalam kata-kata cinta, asmara, rindu, sunyi, senyum., tangis, dan isak sembilu mendaki mimpi-mimpi (spesifik Arsyad ?). Juga bisa ditemukan idiom-idiom yang unik seperti larva bintang, semak ganggang, serbuk bintang, serbuk ganggang, musik batu kolam (sebuah judul puisi hlm 80, ditulis 1985).
Lebih lama menyimak lebih terasa nafas konfensional yang nampaknya memang menjadi bagian dari gaya penyairnya. Namun ada juga yang terasa kenes seperti diwakili oleh judul puisi Di Kolam Garden City Waktu Pagi, Aku tersesat dalam Gumpalan Pekat, Renjana, puisi-puisi yang ditulisnya tahun 1977, pada saat penyair berusia 28 tahun.
Puisi-puisi dalam ‘RSB’ sesuai dengan maksudnya, kental dengan aroma cinta. Sebagai contoh, Puisi Kau Kirim Gerimis memuat impian-impian yang wajar pada orang muda usia (21 tahun). Tapi ia juga telah bicara tentang ajal, kegamangan serta kecemasan-kecemasan. Semuanya menjadi bagian dari nuansa jiwa seorang penyair, sedang tumbuh maupun telah menemukan ‘dunianya’.
Di tahun 2006 pada saat penyair berusia 57, masih menunjukkan gairah jiwa muda ‘ yang kaya aroma anggur ‘ masih tersimpan hasrat indah ingin memetik dengan lembut bunga-bunga yang bermekaran di hati “sang kekasih’ dan masih memiliki semangat ‘menangkap’ suatu yang bermanfaat bagi dunia kehidupan. Setiap insan yang menjalani kehidupan dan mengusung misi NYA, bukankah harus menjaga yang satu ini ? Menangkap yang bermanfaat !
Ada lagi pada hlm 22, sebuah judul yang akan ada dan terjadi sepanjang jaman, di setiap mana, di setiap siapa, yaitu ‘Kisah Kasih di Suatu Taman’ – sebuah pesona peristiwa kejiwaan, sebuah lukisan indahnya kesetiaan, yang mengingat terbatasnya ruang bisa dikutipkan sebagian dari puisi tersebut. “ Asmara tiada pernah mengenal musim/Bersemi pada siapa pun dalam kehidupan/Mekar dibungakan/Dan wangi pun diharumkan/ ...” Sebuah kisah yang bisa dialami siapa saja ( tanpa beban dosa ? ) – tentunya jika oleh mereka yang masing-masing masih ‘sendiri’. Dalam pengertian, menjalin kisah tanpa merugikan dan menyakiti sesama, bukan ? ( Wahai penyair, jika itu yang dimaksud, itulah keindahan sejati ! ).
Ya, insan seni dalam konteks ini penyair, adalah pencatat jaman, perekam sejarah dalam skala mikro maupun makro. Seniman (sastra) adalah manusia yang diberkahi, maka ia punya pertanggungjawaban moral kepada sang Pemberi, kepada bangsa dan negeri, tempat ia tumbuh, hidup dan berkembang, dan tentunya kepada nurani sebagai insan yang tahu berterimakasih kepada Penciptanya. Arsyad sangat menyadarinya. Menyadari bahwa dunia penyair adalah ‘dunia kata-kata’ maka ia memberi tempat dan kepercayaan yang baik kepada kata-kata.
Arsyad yang baru saya kenal lewat nama dan karya, pada saat saya menulis ini, terasa sekali kami bagaikan sedang berdialog, tukar pikiran, saling memahami dan bisa saling mengerti pada bagian-bagian tertentu. Sepertinya saya bisa meraba hatinya, menggarisbawahi pemikirannya ( ya, tulisan/catatan ini lantas menukik lantaran saya bukan kritikus tapi sesama pelaku seni yang ketemu mitra sewawasan ), jadi perasaan lebih ikut berperan. Bukankah begitu mitraku penunggu bumi
Kita sama-sama tahu bahwa insan seni bukan penonton di pinggir gelanggang melainkan pelaku peristiwa di gelar arena kehidupan. Ia juga bukan pejalan kaki di trotoar yang lewat sesaat lalu hilang bersama perjalanan waktu. Masalahnya adalah bagaimana menjaga semuanya ini relatif berdaya guna baik bagi diri maupun sesama.
Saya yakin setiap penyair yang berangkat dari sebuah kesadaran dan bukan dari ‘ sekedar ‘, sepanjang usia proses kreatif yang tak kenal henti akan selalu berjuang di arenanya untuk tidak pernah ‘ merasa lelah ‘. Senantiasa memadukan intelektualitas, pengalaman hidup ( lahir batin ), keterampilan ‘ mengendalikan ‘ kebahasaan dengan segala perniknya, kemudian membingkai motivasi diri. Semoga
Terbit di Radar Banjarmasin, Minggu 18 Maret 2007 Ingin mengetahui puisi-puisi cinta Arsyad Indradi selengkapnya ? klik Antologi Puisi Cinta Romansa Setangkai Bunga yg terdapat di Daftar Isi
Sabtu, 08 November 2008
Sejarah Perkembangan Kota Banjarbaru
Sabtu, 8 Nov 2008 sekitar jam 12.00, saya kedatangan tamu siswa – siswa SMA Telkom Banjarbaru kelas IX ( 6 orang ), di rumah saya jalan Pramuka Banjarbaru. Maksud kedatangan mereka adalah mewawancari saya tentang sejarah perkembangan
Pada tahun 60-an ada sebuah bukit yang terletak dipinggiran jalan lintas antara dari Hulu Sungai ke
Selasa, 04 November 2008
HASIL LOMBA BACA PUISI DI MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT
Minggu, 26 Oktober 2008
Dialog Sastra di Smada Banjarbaru
Menyambut bulan bahasa pd bln okt 2008 ini SMA N 2 Banjarbaru mengadakan Dialog Sastra, bertempat di aula sekolah tsb, jumat (24/10). Acara yg diikiuti siswa Jurusan Bahasa ini menghadirkan tiga pemateri, Arsyad Indradi, Sandi Ferly, dan Reza Pahlevi.
Arsyad Indradi yang dikenal sebagai penari dan penyair lebih banyak memberikan motivasi kpd siswa utk menekuni bidang sastra, penulisan puisi dan prosa (cerpen). “ Setahu saya, sekitar thn 2005 di Smada pernah ada siswanya yang menang dlm lomba penulisan cerpen tingkat pelajar dan mahasiswa. Saya kira ini menunjukkan bahwa siswa-siswa di Smada punya bakat di bidang sastra.” ujar Arsyad Indradi.
Menurut Arsyad, untuk menjadi seorang sastrawan itu tidak hanya diperlukan bakat. “ Yang utama adalah niat, kegigihan dan keberanian,” katanya. Tentu saja, lanjutnya, adalah proses belajar terus menerus.
Sementara Sandi Firly, redaktur Sastra Radar Banjarmasin, dlm paparannya tentang penulisan kreatif (cerpen) memberikan beberapa ‘jurus” dasar menulis sebuah cerpen. Disebutkan, diantaranya yakni penguasaan bahasa, memompa dan mengolah daya imajinasi. “ Selebihnya adalah proses membaca, belajar dan terus menulis,” terangnya.
Sandi juga mengatakan, bahwa sebuah cerpen itu semestinya harus menarik mulai dari judulnya. “ Dan salah satu kunci cerpen yang baik juga adalah menghindari pembuka cerita yang bertele-tele,” jelasnya.
Sedangkan Reza Pahlevi, penggiat kesenian di Banjarbaru, berbicara tentang musikalisasi puisi. “ Musikalisasi Puisi tidak sama dengan lagu. Tapi puisi yang diberi unsure-unsur musik dari instrumen -instrumen musik seperti gitar angin, suling, atau bunyi-bunyian seperti suara burung,” jelasnya.
Karena musikalisasi puisi berbeda dengan lagu, maka menurut Reza, dalam musikalisasinpuisi tidak ada istilah reff yang biasa terdapat dalam sebuah lagu. “Sedang untuk membuat musikalisasi puisi, diperlukan penafsiran terlebih dulu terhadap puisinya,”ujarnya.
Sedangkan Guru Bahasa dan Sastra Smada, Ibu Zuraida, yang menggagas kegiatan ini juga memiliki harapan kepada para siswanya untuk bisa belajar lebih banyak. “Bila di sekolah hanya diberi teori-teori, maka lewat dialog ini bisa mendengar langsung proses kreativitas penulisan karya sastra dari pelakunya,”kata dia.
Acara yang berlangsung dua jam lebih ini juga diselingi dengan pembacaan puisi. Yang menarik, juga ada madihin yang dibawakan oleh siswi Ervina (dif)**** Terbit di Cakrawala Sastra & Budaya Radar
Sabtu, 20 September 2008
MANTRA

Namun pada zaman sekarang ini mantra mulai langka. Andai pun ada, pemilik mantra merahasiakan keberadaan mantra dan cuma segelintir orang yang memiliki mantra itu pun hanya merupakan warisan kepada keluarga dan orang – orang tertentu. Ini pun tergantung keyakinan pemiliknya.
Bagaimana kalau ditinjau menurut hadis Rasulullah SAW ?
Di zaman sebelum Islam, Umar bin Khatab adalah seorang yang pandai menggunakan suwuk ( mantra untuk pengobatan ). Ketika Umar masuk Islam hal tersebut dia tanyakan kepada Rasulullah SAW. Kemudian Nabi meminta Umar untuk memperdengarkan mantra tersebut. Setelah mendengar, Nabi memberikan batasan sebagai berikut : Selama tidak syirik, silakan dipakai mantra tersebut.
Setelah masuknya agama Islam di Kalimantan, mantra mengalami perbaikan yakni sebelum membaca mantra didahului dengan ucapan “ bismillah “ dan di akhiri dengan “ berkat Lailahailallah Muhammadurrasulullah “
Ada beberapa jenis mantra menurut penggunaannya, yakni :
Mantra untuk pengobatan, matra kedigjayaan, mantra pekasih, mantra pagar diri dan mantra untuk mencelakai orang lain. Agar dapat mengetahui beberapa contoh mantra silakan : klik di sini
Minggu, 14 September 2008
MEMPERKENALKAN KAMUS BAHASA BANJAR KUALA
Kamus Bahasa Banjar Kuala ini menghimpun bahasa banjar yang dipergunakan oleh penduduk asli Banjarmasin, Pelaihari dan Martapura. Bahasa Banjar yang dipergunakan oleh suku Banjar ini sebenarnya terdiri dari Bahasa Banjar Kuala dan Bahasa Banjar Hulu Sungai. Perbedaan ini dapat diidentifikasikan adanya variasi – variasi dalam pengucapan atau perbedaan kosa kata, perbedaan pada bunyi ucapan terhadap fonem tertentu dan perbedaan lagu dan tekanan ( non distinctive ). Dialek Bahasa Banjar Hulu Sungai lebih banyak dan komplek pemakaiannya dari pada dialek Bahasa Banjar Kuala. Dialek Bahasa Banjar Hulu Sungai meliputi daerah – daerah Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan.
Ada beberapa contoh :
Perbedaan seperti pada kata : unda ( aku, saya ), nyawa ( kau, kamu ), dalam Bahasa Banjar Kuala tidak terdapat dalam Bahasa Banjar Hulu Sungai. Begitu pula seperti kata : padangan, padu (dapur ), balalah (berjalan) dalam Bahasa Banjar Hulu Sungai (BH ) tidak terdapat pada Bahasa Banjar Kuala (BK ).
Kemudian, perbedaan pengucapan fonem tertentu seperti pada kata :
BK : koreng --------- BH : Kuring --------- borok
BK : longor ---------- BH : lungur ----------- botak
BK : gemet ----------- BH : gimit ------------- pelan
BK : ujan -------------- BH : hujan ------------ hujan
BK : sedang ----------- BH : sadang ---------- sedang, cukup
Demikianlah gambaran sekilas Bahasa Banjar Kuala dan Bahasa Banjar Hulu Sungai. Semoga Kamus Bahasa Banjar Kuala yang kami suguhkan ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mengetahui Bahasa Banjar terutama Bahasa Banjar Kuala. Selengkapnya klik di sini***** Arsyad Indradi *****
Sabtu, 13 September 2008
Kesalahan ini jangan hanya dilimpahkan pada “ Mereka “
GEMAR MEMBACA
Mari kita renungkan hasil survei Bapak Taufik Ismail gemar membaca di SMU dr 13 negara :
1. Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku sastra selama 3 tahun.
2. Jepang dan Swiss menghabiskan 15 judul buku sastra selama 3 tahun
3. Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menghabiskan 5 – 7 judul buku sastra selama 3 tahun.
4. Indonesia = 0 buku.
Setelah melihat hasil survei tersebut, duhai begitu parahnya minat baca kaum generasi muda kita sehingga mereka tak pernah bersentuhan dengan buku – buku sastra meski bertahun – tahun menuntut ilmu di bangku pendidikan ! Apakah fenomena ini merupakan potret gagalnya pengajaran apresiasi sastra di sekolah ?
Jelas, perbaiki sistem pendidikan Indonesia !!!
Sabtu, 06 September 2008
BANGKITKAN SEMANGAT CINTA TANAH AIR, HAI TKI

Bagaimana dengan migran TKI dari Indonesia ?. Inilah masalahnya. Bahwa, Indonesia dihadapkan pada “harga diri “ sebuah negara yang tak pernah beres menangani masalah kependudukan dan lapangan pekerjaan. Tapi kalau ada kemungkinan ketidakseriusan ini memang sengaja membiarkan TKI mengalir ke negara lain adalah upaya mengurangi bentuk kemiskinan dan berpendidikan rendah di Indonesia. Kalau anggapan ini benar ini namanya pemerintah taik anjing ! Dalam pemilu yang akan datang jangan lagi dipilih pemimpin taik anjing !
Selama ini nasib TKI Indonesia selalu ditimpa kesengsaraan, penderitaan, kepiluan dan lain-lain. Oleh karena itu, ini suatu peringatan dan pelajaran bagi TKI sendiri, lebih – lebih TKI ilegal. Masih kita ingat di Nunukan Kaltim, TKI yang diburu, digeledah, diuber-uber sampai terbirit-birit ke perkebunan di tengah belantara, ini disebabkan tidak mengindahkan batas waktu untuk dideportasi meninggalkan Malaysia.
Perlu diingat bahwa pengurusan tenaga kerja hanya menguntungkan agen-agen tenaga kerja saja ! Adakah TKI menjadi kaya setelah bekerja menjadi pembantu rumah tangga dan buruh kasar di luar negeri ? Nonsen !. Malah menjatuhkan “martabat Bangsa Indonesia” ! Bagaimana pun juga kita adalah bangsa Indonesia dan Indonesia adalah tempat tumpah darah kita, kita harus mencintainya, kalau tidak siapa lagi ! Sebenarnya banyak pekerjaan di negeri kita sendiri, asalkan ada kemauan yang keras, ulet dan disertai dengan doa. Kita acung kedua jempol kepada para pemulung, tenaga kebersihan pengangkut sampah, penyapu jalanan dan pasar, pembantu rumah tangga dan banyak lagi pekerjaan yang halal lainnya.
Bangkitlah hai saudaraku TKI tanamkan kecintaan kita pada tanah tumpah darah Indonesia. Kita lahir di sini dan amat terhormat kita mati dan berkubur negeri sendiri. *** Arsyad Indradi ***
Jumat, 05 September 2008
BAB III,IV DAN V ANTOLOGI PUISI ”KALALATU” DLM SKRIPSI NOOR HANA

METODE PENELITIAN
3.1 Metode
Dilihat dari tujuan dan sifatnya, penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu metode yang memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan data, menganalisis dan menginterpretasikannya.
Sesuai dengan teori, kajian sastra khususnya puisi, mempunyai berbagai teknik pendekatan. Teknik pendekatan yang digunakan adalah pendekatan objektif dengan cara melukiskan sifat-sifat utamanya. Pendekatan ini digunakan karena pembahasan mengenai puisi dilepaskan dari siapa pengarang dan lingkungan sosial budaya zamannya, sehingga karya dapat dianalisis berdasarkan unsur-unsur utama yang membangunnya.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut :
1. Teknik kepustakaan, yaitu teknik dengan cara mengumpulkan bahan acuan yang dapat dijadikan sumber dalam menganalisis karakteristik puisi.
2. Membaca dan memahami puisi. Untuk memahami unsur-unsur utama puisi, maka yang pertama-tama dilakukan adalah membacanya, sehingga dapat mengetahui makna dan keterkaitannya secara keseluruhan. Hasil pemahaman ini dapat digunakan untuk menghubungkan atau menerapkan butir-butir yang telah dibahas pada Bab II dengan beberapa teks puisi pilihan dalam antologi “Kalalatu”.
3.3 Sumber Data
Data yang digunakan dalam penulisan ini bersumber dari antologi puisi Arsyad Indradi “Kalalatu” sebagai fokus utama kajian dan buku-buku yang relevan dengan masalah yang ingin dipecahkan.
TEKNIK ANALISIS DATA?
