Sabtu, 06 September 2008

BANGKITKAN SEMANGAT CINTA TANAH AIR, HAI TKI


Harus kita sadari bahwa banyaknya migran yang datang dari negara lain akan menjadikan masalah yang cukup krusial dalam kelangsungan sosial politik sebuah negara. Dan adanya migran jelas merupakan bahaya ekspansi multidimensi bagi negara itu. Seperti halnya Malaysia yang menerapkan pro-natalis.

Bagaimana dengan migran TKI dari Indonesia ?. Inilah masalahnya. Bahwa, Indonesia dihadapkan pada “harga diri “ sebuah negara yang tak pernah beres menangani masalah kependudukan dan lapangan pekerjaan. Tapi kalau ada kemungkinan ketidakseriusan ini memang sengaja membiarkan TKI mengalir ke negara lain adalah upaya mengurangi bentuk kemiskinan dan berpendidikan rendah di Indonesia. Kalau anggapan ini benar ini namanya pemerintah taik anjing ! Dalam pemilu yang akan datang jangan lagi dipilih pemimpin taik anjing !

Selama ini nasib TKI Indonesia selalu ditimpa kesengsaraan, penderitaan, kepiluan dan lain-lain. Oleh karena itu, ini suatu peringatan dan pelajaran bagi TKI sendiri, lebih – lebih TKI ilegal. Masih kita ingat di Nunukan Kaltim, TKI yang diburu, digeledah, diuber-uber sampai terbirit-birit ke perkebunan di tengah belantara, ini disebabkan tidak mengindahkan batas waktu untuk dideportasi meninggalkan Malaysia.

Perlu diingat bahwa pengurusan tenaga kerja hanya menguntungkan agen-agen tenaga kerja saja ! Adakah TKI menjadi kaya setelah bekerja menjadi pembantu rumah tangga dan buruh kasar di luar negeri ? Nonsen !. Malah menjatuhkan “martabat Bangsa Indonesia” ! Bagaimana pun juga kita adalah bangsa Indonesia dan Indonesia adalah tempat tumpah darah kita, kita harus mencintainya, kalau tidak siapa lagi ! Sebenarnya banyak pekerjaan di negeri kita sendiri, asalkan ada kemauan yang keras, ulet dan disertai dengan doa. Kita acung kedua jempol kepada para pemulung, tenaga kebersihan pengangkut sampah, penyapu jalanan dan pasar, pembantu rumah tangga dan banyak lagi pekerjaan yang halal lainnya.

Bangkitlah hai saudaraku TKI tanamkan kecintaan kita pada tanah tumpah darah Indonesia. Kita lahir di sini dan amat terhormat kita mati dan berkubur negeri sendiri. *** Arsyad Indradi ***

5 komentar:

Kristina Dian Safitry mengatakan...

aku barusan akan bangkit,ketika tiba tiba sendalku putus, celana robek, telingga berdengging seperti suara tawon.

dan aku masih ingat dgn satu kata:
"aku merasa terikat tapi tidah dgn tali.aku merasa terpenjara tapi bukan dibalik terali"

bisaku hanya bertanya:dimanakah letak harga diri negara kami,jika rakyat melulu dieksploitasi.

kiranya,bukan hanya aku dan kamu yang tahu,mentalitas negara kita mentalitas kertas.
lihat saja bagaimana para pemimpin kita membuat sketsa gambar yang kemudian dikasih warna hingga membentuk gambar yg indah.keindahan itu bukan milik kaum bawah,cukup dan cukup jadi milik mereka. sementara yang jelata, dengan mudahnya akan dijadikan barang komoditas oleh pemerintah tanpa wajah.mereka diperdagangkan yg sedikitpun tanpa diberi perlindungan.apakah masih pantas kita menyebut pimpinan kita memiliki wajah dan telingga? pimpinanku hanya satu,yaitu DIA Yang DiAtas sana. Esa.

timur matahari mengatakan...

NASIONALISME
mencintai tanah air tapi belum makan?
mencintai tanah air tapi pengangguran?
mencintai tanah air tapi pengobatan mahal?
nasionalisme semacam apa yang terjadi sekarang, mengapa diluar negeri sana warga negara kita lebih dihargai (upah)? semenetara dinegara sendiri tak bisa hidup? wajar jika rakyat indonesia berbondong-bondong jadi TKI. bayangkan, sudah sedemikian sulitkah hidup dinegeri ini hingga para calon TKI terus saja bertambah padahal tidak sedikit dari TKI yang mendapatkan perlakuan tidak wajar?

Bunda Rierie mengatakan...

Sebenarnya bunda kasian sama TKI..apalagi denger banyak yg mati nggak jelas..knapa harus jadi tki yach? knapa?knapa? ada yang bisa jawab?

budhe Fakhrun mengatakan...

Saya tinggal di luar negeri ndampingi suami yg jd TKI dan Alhamdulillah kami sejahtera namun tentu saja tanah air tetap dirindu.Nah yg jadi masalah gimana mengajarkan ke anak cinta tanah air ya mulai darimana mereka lahir dan besar di Qatar sini sedangkan kondisi negri kita tercinta saat ini sedang masa pemulihan dari sakit.

Terima kasih ya Kang...artikel ini menjadi referensi berharga buat kami.

Mama Shasa Shahira mengatakan...

kenapa ya masih banyak yg minat kerja jd pembantu di luar negeri padahal udh banyak kejadian yg kesiksa dan akhirnya meninggal disana.. mereka kepepet krn ngebayangin jumlah uang yg banyak krn di luar negeri gaji lebih besar. Tapi sebenernya jumlah yg mereka terima sangat kecil disana... itu krn perbedaan kurs nya..