Jumat, 06 Februari 2009

" Pemilu, Janji dan Nasib Kita 5 Tahun ke Depan "

Membaca artikel di atas oleh http://sailakotabaru.blogspot.com sungguh sangat menarik. Dan timbul pemikiran saya untak memberikan tanggapan.berupa tulisan kecil ini. ( Agar pengunjung dapat membaca artikal di atas klik saja pada situs di atas)
Sebenarnya kita punya parlemen seperti dalam UUD 1945 segenap perangkatnya. Namun inilah buah si malakama bagi rakyat Indonesia. Dan buah si malakama inilah yang menjadikan penderitaan rakyat yang tidak pernah berkesudahan. Memilih, berbuah kekecewaan karena yang dipilih tidak betul-betul melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya setelah terpilih. Tidak memilih, maka ia tidak menjadi warga negara yang baik, bahkan MUI mempatwakan haram. Dalam hal ini seyogyanyalah bagi caleg-caleg intropeksi pada dirinya sendiri dan menyadari sepenuhnya apakah ia layak dan betul - betul sanggup mengemban amanat penderitaan rakyat. Dan pihak KPU harus benar-benar selektif dengan kereteria dan persyaratan yang ketat untuk meloloskan seorang caleg. Seorang caleg bukan seseorang yang memiliki banyak “ iming-iming “ dan “ uang pelicin “. Tetapi punya “ Visi dan Misi “ realistis sebagai seorang negarawan untuk bangsa dan Negara. Dipihak lain adalah rakyat sendiri. Rakyat hendaknya sudah tidak bodoh lagi untuk menentukan pilihannya. Rakyat sudah pintar membaca apakah layak atau tidak siapa – siapa figur yang terpampang baik di Poster, spanduk atau pun di Baliho dengan slogan - slogannya.
Seorang caleg yang bertitel dari perguruan tinggi atau caleg yang berpakaian agama. tidak jadi jaminan yang mutlak, tetapi titel berkepribadian yang luhur, jujur, berjiwa semangat membangun, penuh dedikasi, bertanggung jawab adalah pangkal utama untuk bangsa dan negara. Seorang legislatif, eksekutif dan yudikatif adalah manusia yang sadar dan tahu apa kehendak rakyat, bangsa dan negara ini. Semoga Tuhan memberikan jalan yang terang bagi kita semua. Amin.*** Arsyad Indradi.

9 komentar:

Abiagi Smith mengatakan...

posting yang sangat akurat. tajam dan terpercaya..walah kaya TV aja.
ya pak kita sama-sama berharap muncul pemimpin yang baik dari kalangan yang baik supaya semuanya menjadi baik..semoga itu terjadi.

saila.onepiece mengatakan...

Terimakasih Bapak,! Saya sangat bahagia dengan apa yang sudah bapak tuliskan.

Mama Shasa Shahira mengatakan...

Bener tuh eyang.. seorang caleg gak cm ngandelin uang pelicin... kl br nyaleg udh keluar uang bnyak nti pas jd malah gak mikirin negara malah cr cara biar uangnya balik.. hehee

Si Maria. mengatakan...

Abah, Maria belum tau mau ikut Pemilu atau tidak. Banyak banget Partainya Bah...

kakve_santi mengatakan...

caleg narsis mua...
padahal yang kecantum dikertas suara cuma namanya doang...

Dexter mengatakan...

Iya benar sekali kakek...setuju...
Apa kabar kakek? Maaf antologi puisinya di undur, kapan hari saya ketemu bang nanoq (dusun senja) dan dia berhasrat untuk menerbitkan buku antologi tersebut. Namun direncanakan selesai pada Mei.
Maaf kakek. Semoga kakek selalu dalam lindunganNya.

BINTANG motor sport mengatakan...

cucuk yg ada aja bah ay... hehe..

limpo50 mengatakan...

dulu gigi saya tak putih.... saat itu saya suka membohongi anda,memaksa anda, mengakali anda...
Kini saya masih tak bergigi putih, tapi saya mengajak anda jujur dalam pimilu...
siapakah saya ?

Arsyad Indradi mengatakan...

Ha ha ha ini namanya manusia yang munafik. Sebab politik itu " kotor sekali ", Mas limpo50