Rabu, 14 Januari 2009

Arsyad Indradi Menyelesaikan Sepuluh Buku Dalam Satu Tahun Dua Bulan


Oleh : Harie Insani Putra

Saat RUMAH CERITA menemui Arsyad Indradi dirumahnya jl Pramuka no.16 Banjarbaru ternyata beliau sedang sibuk melipat kertas. Melihat kami datang, Arsyad Indradi langsung menghentikan pekerjaannya.
Setelah kami masuk, terbentanglah pemandangan buku-buku yang telah tersusun, alat pemotong kertas, bungkusan buku siap kirim, dan lembar-lembar kertas yang belum selesai dilipat. Di rumah sekaligus tempatnya memproduksi buku, Arsyad Indradi seperti sedang menyiapkan masa tua yang terencana. Kepada kami ia bilang jika tugasnya sebagai pegawai negeri telah selesai, kepada bukulah ia akan mengabdi.
Masih banyak karya-karyanya yang belum terdokumentasi, itu disebabkan pada tahun 1970, Arsyad Indradi lebih konsentrasi kepada seni tari.
“Karena dulu sibuk menari, banyak karya yang tidak sempat diketik dan sekaranglah kesempatan untuk mengumpulkannya kembali dan dijadikan satu ke dalam buku,” tutur Arsyad Indradi yang pada tahun 2004 pernah diundang oleh kerajaan Malaka dalam acara pesta tari gendang nusantara 7 Malaka, Malaysia.
Setelah dirasa cukup berbasa-basi, RUMAHCERITA langsung menanyakan tentang proses pengerjaan buku antologi puisi nu-santara. Sambil mengusap rambut, Arsyad Indradi menerangkan kenapa ia butuh waktu satu tahun dua bulan untuk menyelesaikan antologi nusantara.
“Saya butuh waktu satu tahun dua bulan untuk menyelesaikan buku antologi puisi nusantara karena juga mengerjakan buku yang lain,” ungkapnya. “Sebenarnya saat ini saya hanya tinggal mencetak ulang saja karena sepuluh buku tersebut sudah habis,” terangnya kemudian. Arsyad Indradi juga mengatakan bahwa kawan-kawan penyair luar daerah menyebutnya sebagai penyair ‘gila’ karena memproses buku sebanyak itu dalam waktu singkat.
Sepuluh buku itu tentu bukan hanya karya pribadinya saja tapi beberapa karya komunitas sastra di kota Bandung.
“Saya salut dengan keberadaan mereka sebagai komunitas sastra. Sewaktu berada di sana, saya melihat langsung apa yang mereka kerjakan. Semangat menulis mereka tinggi dan hati saya terpanggil untuk menerbitkan karya puisi mereka yang selama ini belum pernah dibukukan,” ceritanya mengenang setahun yang lalu ketika berkunjung ke kota Bandung.
Sebenarnya ‘gila’ yang dimaksud tidak saja mengarah karena telah menerbitkan sepuluh buku, tetapi juga karena semua penerbitan buku yang sudah ada dibiayai dari isi dompetnya sendiri, termasuk antologi puisi nusantara yang dalam satu bukunya berjumlah 728 halaman.
Mengenai ini Arsyad tenang-tenang saja, ia tidak ingin meminta bantuan, kalau tidak mampu ia akan memilih untuk diam tapi jika ada yang ingin membantu, barang tentu tanpa harus ia memintanya dulu.
“Alhamdulillah selama ini berjalan lancar. Meski demikian kendala pasti ada tapi bisa saya selesaikan,” jawabnya tulus.
Selama mengerjakan semua buku, tak sekali dua jari tangannya tersayat pisau cutter. Utamanya pada saat mata mulai terasa berat karena kurang tidur. Arsyad akan merasa puas jika buku yang diterbitkannya murni hasil kerja tangannya sendiri. Maka tahap demi tahap, mulai dari melayout, menyusun halaman, mencetak, melipat kertas, sampai menjilid dilakukannya sendiri. Arsyad percaya bahwa tidak ada hasil yang cemerlang tanpa diawali dengan kerja keras.
Seandainya ingin dibayangkan, sebagai pegawai negeri, sejak pagi Arsyad harus bekerja seharian. Kembali ke rumah, ia segera membuka layar komputer untuk melanjutkan pekerjaan bukunya hingga malam. Terus begitu hingga proses penjilidan. Tentu ini sangat melelahkan.
Tapi Arsyad selalu memotivasi dirinya sendiri bahwa pekerjaan apa pun akan selesai apabila segera dimulai. Apalagi banyak yang menyangsikan ketika Arsyad Indradi berniat menerbitkan antologi puisi nusantara, kesangsian itu tidak membuatnya patah semangat, sebaliknya menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Nyatanya sekarang buku antologi nusantara telah terbit.
Setelah cukup panjang lebar, akhirnya RUMAH CERITA undur diri agar beliau bisa melanjutkan pekerjaannya kembali.
Selamat bekerja penyair Arsyad Indradi. Lain waktu kami datang kembali.***


Harie Insani Putra
redaktur Mini Magazine Rumah Cerita, cerpenis.
( Rumah Cerita #01 Mei 2007 )

2 komentar:

yulianbjm mengatakan...

Memang hebat bapak kita yang satu ini
luar biasa, salut ulun...

Dillah Edutech mengatakan...

wah good deh pak...