Persiapan menghadiri Aruh Sastra Kalimantan Selatan XXI di Barikin Hulu Sungai Tengah.
Arsyad Indradi membaca puisi karyanya sendri " Simbangan Burung Laut"
Biar angin sekencangkencangnya
Menyapu wajah laut bergelombang
Biar pantai menceritakan dukanya
Sebab akulah burung laut
Yang mengabarkan ke jagat jagat
Gelombang demi gelombang adalah
Debur dalam jiwaku
Merajah rindu di pasir pasir
Aku menari sendiri
Agar aku tiada mengenal lagi masa silamku
Menggantung pada tebing tebing batu
Maka bersenjalah semesta
Kurindukan matahari menjadi segumpal darah
Mengalir dilazuardi langit dan laut
Perahu perahu nelayan telah lama menepi
Batu batu karang telah menjadi arca sunyi
“ tiada letih hatiku merindu
rindulah badan harapan tak sampai
apalah artinya lama menunggu
Katakan pada laut : akulah gelombang
Katakan pada gelombang : akulah pantai
Katakan pada pantai : akulah pasir
Katakan pada pasir : akulah buih
Katakan pada buih : akulah rajah yang merindu matahari
Katakan pada matahari : akulah burung
Yang menari membusur langit
Yang menari menghembus angin
Dukaku duka pantai
Dukaku duka perahu
Dukaku duka karang
Dukaku duka merindu
Maka segumpal darah yang mengalir dalam jiwaku
“tak gelombang tak laut
tak laut tak pantai
simbang oi, simanggu kacil
manyaru
Simbang oi,
Atas nama cinta
Arung pada di masyrik
Arung pada di magrib
Arung pada di paksina
Arung pada di daksina
Simbang oi, Si burung laut
Banjarbaru,1980
Tidak ada komentar:
Posting Komentar