Rabu, 25 Juni 2014

Arsyad Indradi Baca Puisi di Palu Sulawesi Tengah

Road Show Puisi Menolak Korupsi di Palu, Sulawesi Tengah Sabtu, 7 September 2013, Pukul 09.00 – 13.00 WITA Gedung GOLNI, Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah.

Arsyad Indradi Baca Puisi di Banjarbaru

Road Show Puisi Menolak Korupsi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan Jumat, 27 Juni 2013, Pukul 16.00 – 18.00 WIT Panggung Bundar Minguraya Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan

 

Arsyad Indradi Baca Puisi di Blitar

Road Show Puisi Menolak Korupsi di Blitar, Jawa Timur Sabtu, 18 Mei 2013, Pukul 19.00 – 24.00 WIB Di Perpustakaan Bung Karno, Jl. Kalasan, Kal. Bendogerit, Kec. Sananwetan, Kota Blitar

 

Nasib Negeriku

Ya Allah, bagaimana nasib negeriku, jika pemimpinnya berwatak begini

 

Kutitipkan Indonesia Padamu

Kalimantanku Punah

Selasa, 24 Juni 2014

Baca Puisi di Road Show PMK Indramayu

Arsyad Indradi baca puisi menolak korupsi di road show PMK Ponpes Hidayaturrahman Sukra  Juni 2014, jam 15.30 WIB

 


Baca Puisi Menolak Korupsi Dalam Bus

Terjebak kemacetan jalan menuju road show PMK di Ponpes Hidayaturrahman Sukra Indramayu,20 Juni 2014,di dalam bus Arsyad Indradi membaca Puisi Menolak Korupsi

Kamis, 08 Agustus 2013

Licentia Poeitica Pada Ranah Penulisan Puisi


Oleh : Arsyad Indrad
Penulis puisi memang harus menaati kaidah penulisan puisi, akan tetapi ada kalanya tidak mengindahkan kaidah itu. Menaati penulisan seperti preposisi (kata depan) "di" dan “ke” harus terpisah seperti kata "meja", di meja., ke meja, ke jalan, di jalan, ke kota, di kota, ke mana, di mana, di sini, ke sini dll. Sebab kata meja,jalan,kota, mana, sini menunjukkan tempat. Lain halnya dengan prefiks (awalan)“di” serangkai dengan kata yang bukan menunjukkan tempat, seperti : diserahkan,diminati,diambil dll.
Adalah ketidakcermatan apa bila penulisan seperti : dimana,disana,disini,ditempat,dibawah,diatas,ditengah,kemana,kesana dan lain-lain.
Bagaimana dengan kompositum (kata majemuk)?
Dalam tata bahasa Indonesia tidak ada rumus atau aturan khusus kata majemuk, yang ada cuma acuan dalam EYD dan KKBI. Seperti penulisan kata majemuk antara lain : kacamata,matahari, air mata, kereta api,barangkali,daripada dll.
Sementara, ada pertanyaan : Apa sesungguhnya kata majemuk itu ?
Sementara, ada yang menjawab : Kata majemuk atau kompositum adalah  gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang  mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantic.
Dan sementara ada yang menjawab : Kata majemuk memiliki pengertian gabungan dua kata atau lebih yang memiliki struktur tetap, tidak dapat di sisipi kata lain atau dipisahkan strukturnya karena akan memengaruhi arti secara keseluruhan.   
Dan sementara ada juga yang menjawab : Kata majemuk memiliki ciri gabungan kata yang bisa membentuk makna baru. Kalau mencermati apa seperti di EYD dan KBBI, ada penulisan kata majemuk yang penulisannya serangkai dan tidak serangkai.      
Mengapa ada perbedaan itu ? Entahlah, di EYD dan KBBI tidak menjelaskan secara tegas apa alasannya sehingga terjadi demikian.
Ada pertanyaan : Mengapa ada penggunaan atau pilihan kata (diksi) kata "kupu-kupu" dan “kupukupu” ?, Di dalam EYD atau disebagian referensi "kupu-kupu" menyebutnya adalah kata ulang (semu ?). Tentu kalau kita mengacu pada kata ulang, mesti ada kata dasarnya. Seperti "meja-meja" kata dasarnya adalah "meja". Demikian pula kalau "kupu-kupu" dikatakan kata ulang tentu kata dasarnya adalah "kupu". Akan tetapi timbul pertanyaan adakah di dalam bahasa Indonesia "kupu" ? Seperti juga "kura","paru","cumi" dan lain-lain. Lalu bagaimana kalau "kupu-kupu" adalah sebuah kata lalu dijadikan kata ulang ? Tentu,"kupu-kupu-kupu-kupu". Disini tampaknya ada pemborosan tanda baca (-). Ada sebagian penyair beranggapan bahwa "kupu-kupu" tidak ada, yang ada adalah kata padu yang tidak bisa dipisahan satu sama lainnya : "kupukupu". Seperti halnya kata padu "matahari" dan lain-lain.
Lalu apa itu : Licentia poetica ? Licentia poetica adalah kebebasan penyair berekspresi dalam ranah penulisan puisinya.
Tentu, penyair tidak semena-mena berlicentia poetica, tetapi ia harus punya alasan mengapa ia berlicentia poetica. Boleh jadi, seorang penyair harus berlicentia poetika dalam menyusun  kata-kata untuk menghasilkan efekt bunyi, nuansa, rasa, daya atau maksud khusus yang tak ada pilihan lain, yang dapat melahirkan rasa keindahan dari karya puisinya itu.
Dengan alasan tersebut di atas, mengapa penyair memilih “jungkirbalik” dari pada “jungkir balik”, “haridemihari’ dari pada “hari demi hari”, “kupukupu” dari pada “kupu-kupu”, “bulanmerahsaga” dari pada “bulan merah saga” dll. Oleh karena itu jangan diukur dengan kaidah bahasa Indonesia, tetapi, ukurlah dengan bahasa batin. ***



Sabtu, 22 September 2012





18 Puisi Cinta Arsyad Indradi di Panggung Bundar Minggu Raya Banjarbaru, 21 September 2012. Baca Puisi Cinta dan Pantun se Kalimantan Selatan

Minggu, 26 Agustus 2012

Rangkaian Kehidupan Puisi Arsyad Indradi



( Bagian 2/Habis )

Oleh : Tarman Effendi Tarsyad

JAUHKAN FATAMORGANA DI MATAKU

Mengapa aku selalu berpaling dari tatapan
Karena aku tak ingin lagi terperangkap
Sebab aku telah membaca semesta
Aku tak pernah lagi percaya pada nasib
Maka meski terus berjalan
Larat yang paling penghabisan
Adalah efitap rampungan segala jejak
Mengembalikan nafas

Dan tak lagi mengenang
musafir mengarung dunia ini
kecuali membungkus tulang belulang
dengan asmamu.

Bbaru, 2007 Selengkapnya klik di sini ...

Sabtu, 25 Agustus 2012

Rangkaian Kehidupan Puisi Arsyad Indradi

( Bagian 1 )

Oleh : Tarman Effendi Tarsyad

Arsyad Indradi lahir di Barabai, 31 Desember 1949. Arsyad Indradi termasuk penyair generasi 1970-an. Menulis puisi baik dlam bahasa Indonesia maupun bahasa Banjar. Kumpulan puisi tunggalnya dalam bahasa Indonesia yang sudah terbit, antara lain, Nyanyian Seribu Burung ( 2006a ), Romansa Setangkai Bunga ( 2006b ), Narasi Musafir Gila ( 2006c ),Anggur Duka (2009). Kumpulan puisi tunggalnya dalam bahasa Banjar dan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang sudah terbit, antara lain Kalalatu ( 2006 ) dan Burinik (2009).Selengkapnya klik disini...

Rabu, 06 Juni 2012

PEMBERONTAKAN IDEALIS RUH “SANG PENYAIR GILA”

Oleh : Awan Hadi Wismoko

Anak seorang polisi ini sangat diharapkan orang tuanya, meneruskan tradisi keluarga untuk menjadi seorang polisi. Dialah Arsyad Indradi sang penyair gila. Perjalanannya di bidang seni dan sastra sebenarnya dimulai sejak SMP, beberapa puisi tentang budaya banjar, alam kalimantan, religi, juga tentang kritik sosial telah diciptanya. Kesungguhannya untuk mencari jati diri dilakukannya saat beliau berani meninggalkan Asrama Pendidikan Kepolisian di hari pertamanya. Beruntung pelariannya tidak berujung di dunia yang penuh dengan kesesatan dan tipu daya tapi terseret masuk dalam dunia seni yang mungkin sudah ada dalam niatan kalbunya. Selengkapnya klik disini...