Selasa, 30 November 2010

Kuda-Kudaan Kerajinan Rakyat Barikin

Barikin adalah salah satu Desa dalam wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Walau pun globalisasi terus bergulir dengan dahsyatnya namun bagi rakyat Barikin tradisi turun temurun masih erat dipegang tanpa pernah longgar. Tradisi ini adalah memproduksi mainan anak-anak yakni "kuda-kudaan" dari bahan kayu yang relatif murah dan dikerjakan secara manual, tapi sungguh luar biasa menariknya,tak kalah dengan mainan produksi pabrikan. Mainan Kuda-Kudaan ini dijual disepanjang tepi jalan (di halaman rumah pemiliknya ). Setiap hari mobil yang melintas baik dari arah Banjarmasin mau pun dari Hulu Sungai yang paling hulu, ada saja yang turun membeli mainan ini. Sangat menggembirakan adalah pembelinya ada juga ibu-ibu pejabat atau orang-orang kaya. Harga seekor kuda ini mudah terjangkau,kudanya kuat tahan bantingan,warnanya beragam dan menarik,pokoknya artistiklah. Aku pikir andaikata mainan kuda-kudaan ini merupakan salah satu mainan di sekolah Taman Kanak-kanak di Kalsel ini akan lebih membantu ketangkasan bagi anak-anak TK, dan juga pemerintah daerah ikut menujnang dan melestarikan kelangsungan hidup usaha kerajinan rakyat ini. Apa kabar Bapak Gubernur,Bapak Bupati dan Walikota, Dinas Pendidikan, Dinas Perindak, Dinas Porbudpar, apakah pernah singgah di kedai “kuda-kudaan “ Barikin ?** Arsyad Indradi.



Kamis, 25 November 2010

PELAJARAN SENIBUDAYA SEKOLAH MENENGAH DI KALSEL MEMPERIHATINKAN.

Sejak dulu sampai sekarang sekolah menengah di Kalsel sangat sedikit memiliki guru mata pelajaran seni budaya, sehingga mata pelajaran Seni Budaya banyak diberikan kepada guru yang bukan faknya. Jadi wajar jika guru tersebut sering mendapat kesulitan untuk membimbing, memberi contoh dalam praktik mata pelajaran tersebut. Apa lagi jarang sekali ada penataran, workshop atau pelatihan.. Tetapi ada juga sekolah yang maju seni budayanya walau pun mata pelajarannya dipegang oleh guru mata pelajaran lainnya, karena guru tersebut.menyenangi seni dan selalu bergaul dengan pakar seni atau seniman, rajin mengikuti setiap perubahan kurikulum, aktif menyusun RPP. Kepala sekolah dan orang tua murid ikut membantu dan menunjang keperluan kemajuan seni budaya di sekolahnya.Selanjutnya klik disini

Minggu, 14 November 2010

Kritik Sang Penyair Gila

Cuplikan Harian Media Kalimantan, 9 Nov 2010.
........................................................
Salah satu seniman yang getol menyuarakan isu lingkungan ini adalah Arsyad Indradi. Ia cukup dikenal luas di kalanagn seniman, baik tingkat daerah maupun nasional. “ Saya sudah merasakan adanya ketidakbersahabatan alam dengan manusia itu yang membuatnya menciptakan puisi dengan judul : Tafakur Memandng Waduk Riam Kanan”. Puisi tersebut pernah dibacakan pada sebuah even di halaman Kantor Pemkab.Banjar tujuh tahun lalu,namun tidak ada tanggapan. “Saya sebenarnya hanya memperingatkan bukan mengkritik”, ungkap Arsyad kepada MK dalam perbincngan ringan di kawasan Lapangan Murjani Banjarbaru,Senin (8/11 hendra).

Tafakur Memandang Waduk Riam Kanan

memandang permukaan wajahmu begitu tenang
langit yang terapung di atas membiaskan spektrum
kehidupan dan mengalir dari bibir bendunganmu
gemuruh di tubuh sungai
entah berapa kampung, dusun, kebunkebun, ladangladang
dan hutanhutan yang merelakan kau lahir
dengan sempurna di lembahlembah hijau
gununggunung yang menopang tubuhmu
dari segenap penjuru yang tak pernah terdengar keluh
dan orangorang tak pernah sepi datang ke sini
menimba kehidupan yang kau berikan
aku memandang pucukpucuk pinus yang berderai
entah apa terbaca hatimu
semacam memendam ribuan rahasia yang belum pernah
siapa pun mau menerjemahkannya
atau orangorangkah yang tak mau jauh berpikir sampai ke sana
tahunketahun senantiasa musim tak menentu
yang selalu lepas dari prakiraan cuaca
dan sungguh kau semakin merenta jua
guratanguratan semakin nampak di keningmu
karena lukaluka ini semakin menganga
aku pernah mengingatkan hal ini kepada orangorang
seperti yang pernah kau ajarkan padaku
tapi mungkin kepercayaan ini begitu purba
di halayak zaman penuh pesona
masih juga wajahmu begitu tenang
tapi ombakombak di wajahmu terus juga melayarkan
bayangbayang kegelisahanku
pada bendunganmu yang meneteskan darah di mataku
dan gemuruh di tubuh sungai
meluap sampai kesegenap penjuru
karena gunung tak berhutan lagi
bukitbukitbatu telah menjadi material jalanan
rumah pemukiman atau gedunggedung bertingkat
membayangkan kau tak mampu lagi menampung
guyuran hujan yang berkepanjangan dan loncatan air
dari lerenglereng perbukitan sedang bendunganmu
kian keropos dimakan zaman
membayangkan peristiwa duka yang tak hentihenti
entah berapa kampung dusun bahkan kota ini
dengan penghuninya akan musnah tiada tersisa
dalam muntahan bendunganmu yang teramat mengerikan
membayangkan sebuah kota yang bernama serambi mekah
dalam riwayat yang menyedihkan

masih tersimpan dalam ingatan
sebuah tangis pertama ketika kau lahir
menulis hari kelahiranmu di tebingtebing gunung
dan menulis perhentian hidupmu di lembahlembah
langit dan pepohonan hijau dan bukitbukit batu
saksi sejarah dari sumber hidup dan kehidupan
tapi juga sumber dari petaka
orangorang selalu meratap setelah bencana
tapi adakah yang peduli mengapa terjadi bencana
setiap aku memandang permukaan wajahmu yang biru
dengan segala pinusmu yang belederu
Tuhan sesungguhnya kau tak ada niatan murka pada negeriku


Banjarbaru, 2001

Rabu, 29 September 2010

BUDAYA MEMBACA CABUT RASA TAKUT KEBEBASAN

Oleh: HE. Benyamine

Menulis sangat mudah sebagaimana beberapa buku tentang penulisan yang memberi motivasi, sebenarnya mengasumsikan suatu keadaan dimana masyarakat telah hidup dalam budaya membaca. Membaca adalah kebutuhan pokok. Pendidikan lebih cenderung didekati dengan pendekatan pendidikan orang dewasa (andragogi), selain pendekatan pedagogi yang berlangsung saat ini. Sehingga, penekanan yang sering muncul adalah budayakan membaca; sebagai syarat yang sangat penting untuk mudah menulis. Budaya membaca inilah yang menjadi tantangan dalam penerapan isi buku-buku tentang motivasi menulis tersebut, yang perlu didengungkan dan didorong tumbuh berkembangnya budaya membaca.
Berdasarkan beberapa hasil riset sebagaimana diungkapkan Dr. Stephen D. Krashen bahwa kita belajar menulis lewat membaca, yang menunjukkan betapa pentingnya mambaca dalam memudahkan untuk menulis, karena membaca merupakan perbuatan menulis di otak. Hal ini juga tergambar dalam bukunya Jean-Paul Sartre, Kata-Kata (2000), dimana membaca sudah dibudayakan oleh keluarganya, terlebih kakeknya yang selalu memberikan berbagai buku dan tulisan, sehingga saat pertama menulis Sartre merasa sebagai plagiat karena banyak tulisan yang mengendap di otak dari hasil bacaan yang membudaya.
Budaya membaca para pendidik (dosen/guru) tentu sudah seharusnya telah berkembang, sebagai kelompok masyarakat yang senang membaca dan menjadi kebutuhan, sehingga dapat menularkan pada anak didiknya. Sudah seharusnya, kelompok masyarakat yang berprofesi sebagai pendidik ini sudah berada dalam budaya membaca, sehingga kegiatan membaca sudah menjadi habit sebagaimana setiap hari melakukan kegiatan mengajar. Buku-buku yang memotivasi menulis menjadi penting dibaca oleh kalangan pendidik dan peserta didik, yang tidak perlu (harus) diikuti adalah gaya penulisannya. Melalui buku-buku motivasi penulisan tersebut, sangat jelas tergambar bagaimana pentingnya budaya membaca, yang menjadi syarat penting dan utama dalam menjadikan kegiatan menulis sebagai kebiasaan (habit) sebagaimana didefinisikan Stephen Covey sebagai titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan keinginan (desire).
Harapan mempunyai kemampuan menulis sangat mudah, tidak serta merta dapat diperoleh hanya dengan membaca buku-buku tentang menulis, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sebab-sebab yang diuraikan dalam buku tersebut hingga bisa menulis sangat mudah yang perlu menjadi perhatian dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan perbuatan berdasarkan harapan (raja’) lebih tinggi kedudukannya daripada perbuatan berdasarkan takut (khauf), sebagaimana Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin ungkapkan, yang menegaskan bahwa sebab-sebab yang menguatkan kepada harapan tersebut harus dijaga dan dijalani, karena bila sebab-sebab tersebut hilang maka harapan tersebut tidak ubahnya sebuah angan-angan belaka. Tentu saja sebab-sebab yang menguatkan harapan dalam mudah menulis adalah budaya membaca, yang harus dijaga dan dijalani sebagai budaya.
Membangun kesadaran tentang potensi diri, sebagaimana gagasan Paulo Freire tentang pendidikan yang benar-benar membebaskan, yang mencabut parasit adanya perasaan takut kebebasan (fear of freedom) dalam masyarakat, juga merujuk pada budaya membaca. Jika budaya membaca tidak ada, maka sistem pendidikan apapun akan menjadikan orang terjebak pada sikap fanatik dan tertanam dalam bangunan yang menindas tapi tidak mau keluar karena takut keruntuhannya. Sehingga, perasaan takut kebebasan (fear of freedom) masih menjadi penghambat yang laten, yang memang sangat sulit untuk didobrak.
Jadi, menulis sangat mudah merupakan pernyataan yang benar namun bergantung pada syarat penting akan budaya membaca. Kemudahan dalam menulis merupakan suatu proses yang panjang dan kerja keras, yang diikuti oleh berkembangnya budaya membaca pada diri seseorang. Banyak orang yang setelah membaca buku tentang motivasi menulis langsung tercerahkan, dan berpikiran bahwa menulis itu memang mudah, sebagaimana mudahnya membaca buku tersebut, tetapi tanpa melihat apa yang menjadi sebab kemudahan itu hanya membuat orang terbuai. Sudah seharusnya profesional pendidik (dosen/guru) untuk terlibat mendobrak tembok perasaan takut kebebasan dalam masyarakat, dengan mendorong tumbuh dan berkembangnya budaya membaca.

(Radar Banjarmasin, 12 April 2010: 3)

Jumat, 07 Mei 2010

MUSEUM SEBAGAI SALAH SATU SARANA UNTUK MENGEMBANGKAN MUATAN LOKAL

Oleh : Drs. Sirajul Huda HM

Pada sebuah seminar ada salah seorang peserta yang juga adalah seorang guru pada sekolah menengah mengemukakan bahwa pada saat ini banyak para murid sekolah yang sudah tidak peduli lagi terhadap budayanya sendiri. Mereka lebih mengenal siapa itu tokoh Peterpan, Raja, atau Padi dari pada siapa Anang Ardiansyah, Ajim Ariyadi,Syamsiar Seman, Bachtiar Sanderta, Ajamudin Tifani, Hijaz Yamani, Justan Aziddin, Rustam AA, Arsyad Indradi dan banyak seniman daerah Kalsel lainnya. Padahal mereka-mereka inilah sebenarnya yang menjadi tokoh musik, teater dan sasterawan di banua Banjar ini. Jauh sebelum lahirnya Ariel. Ian Kasela dan yang lainnya, Anang Ardiansyah sudah berjaya mempopulerkan lagu-lagu Banjar lewat Orkes Rindang Banua dan Anataria. Ketika Rendra masih menjadi crew panggung Ajim Ariyadi sudah menjadi pemeran utama dalam pergelaran teater di Yogyakarta. Apalagi kalau kita berbicara masalah kesenian tradisional kepada generasi muda. Bagi generasi muda hal semacam itu dianggap kampungan, sudah bukan zamannya lagi. Zaman telah berubah kita harus mengikuti perkembangan zaman. Sementara itu diakui atau tidak memang sedikit sekali para budayawan di daerah yang mau menulis tentang budaya kita. Mereka berpendapat bahwa menulis untuk apa kalau tidak bisa diterbitkan. Walaupun dapat diterbitkan kemana mereka harus menjual, sementara sekolah untuk membeli buku harus dari penerbit yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Ironis memang. Disatu sisi sekolah memang memerlukan untuk kepentingan muatan local disisi lain buku-buku untuk menunjang proses belajar mengajar untuk muatan local tidak mudah untuk didapatkan.
Kalau sudah demikian apa yang dapat dibanggakan oleh banua kita ini. Hutan sudah gundul, sungai sudah keruh dan kian punah oleh karena pembangunan fisik yang tidak terkendali. Batubara habis dikeruk untuk melayani syahwat kapitalisme, sedangkan budayanya tercerabut dan tercabik-cabik dari pola pikir, perasaan dan pola laku sebagian besar dari pendukungnya. Berbeda dengan masyarakat Jepang yang walaupun ternasuk dalam Negara yang modern namun sikap dan pandangannya terhadap budaya tradisional tidaklah luntur.
Mereka sadar bahwa sejarah perjuangan hidup bangsanya mewarisi kultur unggul kepada generasi mudanya. Lewat kebudayaan inilah bangsa Jepang bisa jadi jaya. Kabuki yang telah berumur ratusan tahun masih digelar dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Upacara minum teh masih terpelihara hingga saat ini. Masyarakat Jepang banyak yang bepergian keluar negeri dan ini memang dianjurkan oleh pemerintahnya. Tapi apa yang dibawa mereka kembali kenegaranya. Tidak lain adalah produk-produk mereka sendiri.
Bagaimana dengan bangsa kita atau kita persempit dengan masyarakat di daerah kita. Karena banyak termakan iklan di televisi khususnya anak-anak muda, mereka merasa tidak lagi keren kalau tidak memakai levis atau merasa tidak gaul kalau tidak biasa memakan pizza.
Untuk mengenalkan kembali budaya, khususnya budaya daerah salah satu anternatifnya adalah “museum”. Museum merupakan jendela budaya daerah di mana museum tersebut berada. Setiap orang asing yang datang mereka pasti mempertanyakan dimana museum, karena dengan melihat museum mereka akan lebih mengenal budaya daerah setempat.
APA ITU MUSEUM.
Museum adalah sebuah lembaga permanent non profit dalam pelayanan masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk public (umum), dimana pengadaan, konservasi, penelitian, penyajian (koleksi), hanya untuk study, pendidikan dan kesenangan (rekreasi) dan mengenai bukti material manusia dan lingkungannya.
Selain itu museum merupakan suatu tempat penting bagi pelestarian benda budaya dan alam yang dijadikan koleksi, di rawat, di jaga dan disajikan bagi kepentingan umat manusia sekarang dan masa yang akan datang.***

Jumat, 30 April 2010

Penerbitan Buku : Arsyad Indradi Melakoni Tradisi Ribuan Tahun

Esai: A.Kohar Ibrahim

FACE Book. Medio Oktober 2009, Batam, aku terima kiriman buku dari Banjarbaru Kalsel. Kongkretnya 5 buku hasil aktivitas-kreativitas seniman penulis penyair Arsyad Indradi, kelahiran Barabai 31 Desember 1949 dan yang mendapat julukan: Penyair Gila.

“Gila memang,” kesanku begitu, dalam makna memaknai ke-luar-biasa-annya. Aku amat terkesankan oleh fakta fenomenal. Bahwa dalam millennium ketiga ini, di Nusantara, ada seorang penulis yang sedemikian rupa idealismenya demi melestarikan bukti kepenulisan diri sendiri maupun orang lain. Demi membuktikan sumbangannya bagi kekayaan kesusastraan Indonesia dan Dunia. Selanjutnya klik disini

Jumat, 05 Maret 2010

Puisi Arsyad Indradi : Kwatrin Rindu


Kwatrin Rindu

Hai datanglah yang menjadikan
aku duka
Tapi jangan kau usik lagi rinduku
Alir nafas mengalir asmamaha
muara kasih sayang
Dimana tempat kan berajal

kssb,2010

Jumat, 22 Januari 2010

PUISI, ESTETIKA DAN MASYARAKAT

Abdul Hadi W. M.

Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada panitia oleh karena tidak dapat menumpukan pembicaraan kepada antologi yang dikirim kepada saya untuk dibahas dalam pertemuan ini. Alasannya sederhana, antologi tersebut baru saya terima seminggu sebelum saya berangkat ke Banjarmasin. Sungguh tidak mungkin saya dapat membaca antologi yang berisi lebih dari 100 sajak itu dalam waktu singkat. Kesibukan mengajar yang padat dalam hari-hari menjelang akhir semester juga merupakan halangan tersendiri untuk membaca antologi tersebut dengan penuh perhatian. Sebagai gantinya saya pilih topik yang ligkup pembicaraannya lebih luas dan umum.Kendati demikian saya akan berusaha tidak melepaskan tanggung jawab saya meyinggung sajak-sajak dalam antologi yang diterbitkan panitia.Lanjutkan Klik disini

Puisi Arsyad Indradi : Rawi Meratus


Rawi Meratus

Tak pupus asap kemenyan
Rohroh pada bangkit dari tujuh liang gua batu
dari tujuh talikan akar sungsang
Surup melayat hutan melayat gunung
Sayatan tangis karariang tak teduhteduh
Balai tak mampu lagi menyimpan patung sunyi

Disini asal mula tulisan rawi kematian itu
Tapi setelah sekian waktu jadi meranggas
Lalu menjadi sebuah dongeng



Maka tak perlu lagi
membiar risau
meratus makan kembang ilalang
membiar resah
jalan setapak turun ke guntung
membasuh mimpi
Sesungguhnya guntung telah kehabisan airmata

Dan tak perlu lagi berulang membaca rawi itu
Tapi bangkitkan roh rawi nenek moyang
dimana membangun sebuah benua

Banjarbaru,2010

Catatan :
Talikan = sejenis pohon beringin
karariang = sejenis lalat besar ( gangsir)
guntung = anak sungai

Sabtu, 16 Januari 2010

Nyanyian Laut


Arsyad Indradi

Nyanyian Laut

Hanya kepada laut mencurahkan suratan hidup
Angin pantai selatan tak pernah diam menakbirkan gemuruh ombak seluasluas laut
Manakala senja dan burungburung pada pulang
Dan nyanyian sunyi selepas ombak di pantai
Meronce buihbuih sepanjang semenanjung
Dari riwayat pelayaran yang panjang

Tak pernah takluk pada takdir
Sebab masih jauh di balik anganangan
Sebelum matahari terbenam dan bintangbintang berjatuhan pada malam
tahukah kau aku menyerumu sampai pada ujung yang paling penghabisan
Kulminasi karang pada sonder suara menatap merahnya cahya di ufuk
Menafsir kemana awangemawan akan beranjak

Daundaun nyiur pada pohon berkakuan
Kudesaukan sehabishabis angin kembara
Hopla gemuruh
Gemuruh seleluasa ombak mengejarmu
Kaki langit tak risau tak pantang gemulung resah biru laut birunya kalbu merah ufuk merahnya darah jiwa berbuncah
Hanya kepada laut
Kulayarkan segala rindu

Banjarbaru,2010

Rabu, 11 November 2009

Dari Antologi Puisi Bhs.Banjar & Terjmhn dlm.Bhs.Indons : BURINIK Karya Arsyad Indradi

Bakantan

Amun nyawa manusia tahu arti kahidupan nyawa musti tahu
Bahua nagri ini mangasihsayangi buhannya
Mambari’i rumah nang manghijau
Gunung riam guntung nang damai
Berabad tahun hidup tentram

Amun nyawa manusia nang baadap nyawa musti tahu
Di higa batubatu guha
Buhannya méndam wan marista
Malihat parigal nyawa manabangi rumah buhannya
Mambulangkir gunung riam wan guntung

Amun nyawa manusia nang bahatinurani nyawa musti tahu
Buhannya bapuluh tahun hidup
Barumah ranggay
Bagunung bariam baguntung si’im

Amun nyawa manusia nang baparikamanusiaan
Maka nyawa kada sampaihati
Manggariti buhannya
Manangkapi buhannya

Tapi nyawa manusia nang paling hina
Kerna kada suah tahu
Buhanya nangitu mascot nagri ini

Bbaru, 2007

Indonesianya :

Bakantan

Jika kau manusia tahu arti kehidupan kau akan tahu
Betapa negeri ini mengasihsayangi mereka
Memberi rumah yang menghijau
Gunung lembah riam yang damai
Baabad tahun hidup tantram

Jika kau manusia yang beradap kau akan tahu
Di balik batubatu gua
Mereka tercenung dan miris
Melihat kau menebangi rumah mereka
Membredel gunung lembah dan riam

Jika kau manusia yang berhatinurani kau akan tahu
Mereka berpuluh tahun hidup
Berumah ranggas
Bergunung berlembah beriam lengang

Jika kau manusia yang berprikemanusiaan
Maka kau tak akan
Memburu mereka
Menculik mereka

Tetapi kau manusia yang paling hina
Karena tak pernah tahu
Mereka adalah mascot negeri ini

Bbaru,2007

**** bakantan = sejenis kera berhidung panjang
lambang fauna Kalimantan Selatn


Saékong Bakantan Bini

Saékor bakantan bini
Di sasala jaruji wasi matanya luka
Manjanaki kawankawannya di batubatu di munggumunggu
Manjanakinya lawan muhamuha sayung

Saékong bakantan bini
Mamaluk pisit anaknya nang manyambunyiakan muhanya
ka awahnya
lantaran takutan kada sakira


Saékong bakantan bini
Tamsil kuitan nang paling kuitan
Waktu urangurang itu manggariti
Paharatan wan kawanannya bukahan manyalamatakan diri
Anaknya talapas matan géndongannya lalu gugur ka tanah
Lalu babulik maambili anaknya
Tahutahu jaring manangkapnya

Saékong bakantan bini
Anaknya bapiruhut di awaknya
Matanya luka
Meitihi banuanya nang sasain jauh
Waktu kurungan itu dibawa orang

Saékong bakantan bini
Di sasala jaruji wasi
Banyumata darah titik
Gugur kasisigan anaknya

Bbaru, 2007

Indonesianya :

Seekor Bakantan Betina

Seekor bakantan betina
Di balik jeruji besi matanya luka
Menatatap kawankawannya di batubatu dan bukitbukit
Menatapnya dengan wajahwajah miris

Seekor bakantan betina
Memeluk erat anaknya yang membenamkan wajahnya
ketubuhnya
lantaran takut yang sangat menikamnya

Seekor bakantan betina
Sosok ibu yang teramat ibu
Ketika orangorang itu memburu
Sedang bersama kawankawanannya berlarian panik menyelamatkan diri
Anaknya terlepas dari gendongannya dan jatuh ke tanah
Sang ibu kembali mengambil anaknya
Tibatiba jaring menyergapnya

Seekor bakantan betina
Anaknya melekat erat di tubuhnya
Matanya luka
Menatap habitatnya yang semakin jauh
Ketika kerangkeng itu dibawa pergi

Seekor bakantan betina
Di balik jeruji besi
Airmata darah titik
Jatuh keisak anaknya

Bbaru, 2007

Rabu, 01 April 2009

Sultanah


Dari : Fahmi Fakih

Bagi yang mengira tingginya derajat dan kemuliaan hanyalah milik lelaki, kiranya layak untuk menyimak cerita ini. Cerita dimana cinta dan kasih sayang, sikap adil serta kearifan, bersipadu dalam diri seorang ibu.
Alkisah, malam itu udara kota Mekkah begitu dingin, angin tajam terasa perih menggerus kulit. Seorang lelaki tua, seorang sufi yang masyhur namanya, Abdul Qadir Jailani, berjalan sendirian memasuki gerbang kota yang gelap menuju Ka’bah, rumah Tuhan itu. Dalam hati, Abdul Qadir membatin dengan penuh rasa syukur. “Ya Allah, terima kasih atas cuaca baik yang telah Kau datangkan untuk menemaniku bersujud kepadaMu.”
Beginilah sifat dan perilaku manusia yang hatinya telah dipenuhi oleh cinta. Situasi yang jelas-jelas tidak bersahabat, yang seringkali kita mengeluh karenanya, di hadapan orang seperti ini malah diterima dengan kegembiraan yang tulus sebagai karunia.
Setelah melewati gerbang kota, Abdul Qadir tiba-tiba dikejutkan oleh satu sinar terang yang terlihat berputaran mengelilingi Ka’bah. Abdul Qadir tidak bisa memastikan benda apakah yang ada di sana, karena jarak antara dirinya dan Ka’bah masih jauh dari langkah. Namun perlahan, seiring tapak kakinya yang semakin dekat, Abdul Qadir tahu, bahwa sosok putih itu bukanlah sebuah benda, melainkan manusia!
Keterkejutan Abdul Qadir kiranya tak hanya sampai di sini. Yang lebih membuat sufi besar ini takjub, adalah kenyataan bahwa manusia yang dilihatnya itu seorang perempuan setengah baya dengan sebelah kaki yang buntung pula! Sisa darah masih terlihat jelas di lukanya. Perempuan itu berthawaf - ibadah dengan cara mengelilingi Ka’bah sambil berdo’a - terlihat begitu khusuk hingga tidak merasakan kehadiran seseorang yang berdiri takjub memandanginya. Abdul Qadir seketika mengurungkan niatnya untuk berthawaf dan memilih menunggui perempuan itu menyelesaikan thawafnya.
Setelah perempuan itu selesai dengan thawafnya, Abdul Qadir lalu datang menghampiri sambil memberi salam padanya. Perempuan itu berpaling seraya menjawab salam sang guru. Abdul Qadir kemudian bertanya. “Siapakah engkau wahai perempuan salehah, dari mana asalmu, dan apa yang menyebabkan sebelah kakimu buntung?” Perempuan itu lalu bercerita tentang dirinya, dan sebab yang menjadikan kebuntungan kakinya.
“Wahai Abdul Qadir, saya tinggal di luar kota, arah utara dari Baitullah ini. Saya seorang janda dengan anak yang masih kecil. Beberapa hari lalu, saya dirundung perasaan rindu yang sangat untuk datang ke rumah suci ini. Namun, karena anak saya selalu menangis jika malam tiba, rasa rindu itu hanya bisa saya simpan dalam hati. Sebab walau bagaimanapun, wahai Abdul Qadir, saya tidak mungkin meninggalkan anak saya dalam keadaan menangis, meski untuk sebuah rindu yang bersangatan. Dan saya yakin, Tuhan pasti tidak akan berkenan menerima ibadah yang saya kerjakan dengan menelantarkan anak saya.
Sampai tadi malam selepas menunaikan salat isya, anak saya kembali menangis. Bahkan kali ini tangisannya begitu keras melolong-lolong, seakan ada sesuatu yang menakutkan dalam penglihatannya. Dengan hati sedih, saya lalu mengambil anak itu dari tilam tipis yang kami punya. Saya pangku ia, saya coba menenangkannya dengan syair puji-pujian yang dulu sering dinyanyikan almarhumah ibu saya ketika saya masih kanak-kanak.
Saya terus bernyanyi. Saya terus bernyanyi dengan syair puji-pujian itu sambil mengusapi kepala anak saya. Perlahan-lahan, tangisan itu mereda, mata itu mulai redup, dan nafas yang mulanya tersengal itu, mulai tenang kembali. Anak saya tertidur, anak saya tertidur di atas paha saya. Dan bersamaan dengan itu pula rasa rindu saya semakin tak tertahankan. Laksana gunung, ia terus-menerus menghimpit perasaan saya. Saya ingin pergi mengejawantahkan rindu saya, saya ingin secepatnya menghadap Tuhan, saya ingin berkhidmat di rumah suciNya. Tapi bagaimana dengan anak saya yang sedang tidur?
Dalam kebingungan itu, saya teringat pedang almarhum suami saya yang tergantung di dinding tempat saya bersandar duduk. Jaraknya hanya sejengkal dari kepala saya. Tanpa pikir panjang, lalu saya ambil pedang itu dan saya potong paha yang jadi bantal tidur anak saya! Wahai Abdul Qadir, kamu tahu apa yang saya rasakan ketika pedang itu mulai memotong paha saya? Sedikitpun saya tidak merasakan sakit! Yang ada hanya perasaan lega karena dengan demikian saya bisa pergi menunaikan kewajiban saya kepada Tuhan dengan tetap bertanggung jawab atas kewajiban saya sebagai seorang ibu kepada anaknya.”
Mendengar pengakuan ini, diceritakan, ruh Syeikh Abdul Qadir Jailani naik ke Lauhul Mahfudh - suatu tempat di langit ketujuh di mana nama-nama dan peristiwa tercatat. Akan tetapi sesampainya di sana, Abdul Qadir tidak menemukan nama perempuan itu. Ini sangat aneh bagi Abdul Qadir. Sebab menurut kebiasaannya, setiap orang yang dipilih Tuhan menjadi walinya di muka bumi, nama mereka pasti tercatat di Lauhul Mahfudh!
Belum lagi selesai rasa heran atas kenyataan ganjil yang ditemuinya, ketika ruh itu kembali ke jasadnya, sebelum Abdul Qadir menanyakannya, perempuan itu, ibu yang teramat penyayang itu, sudah mendahului Abdul Qadir dengan perkataan. “Wahai Abdul Qadir, engkau tidak perlu bersusahpayah mencari tahu namaku ke Lauhul Mahfudh. Namaku Sultanah. Dan Tuhan telah menuliskan namaku bersanding dengan para nabiNya di Ummul Kitab, tempat yang lebih tinggi dari Lauhul Mahfudh.”
Setelah mengatakan ini, ibu itu pun pamit, kembali pulang ke rumahnya. Pulang kepada anak tercinta yang tidur lelap di atas potongan pahanya. Tak lama kemudian meneteslah airmata Abdul Qadir, tak kuasa menahan perasaan hatinya yang bahagia karena telah dipertemukan dengan perempuan mulia seperti Sultanah.

Karang Menjangan, 17 Maret 2006
Fahmi Faqih

Kamis, 19 Maret 2009

Problematika Pengajaran Sastra di Sekolah


Oleh: Mahmud Jauhari Ali

Di tengah ramainya tuntutan guru untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak bagi mereka, sudahkah mereka itu berkontemplasi.

Maksudnya adalah merenungi atas hal yang telah mereka perbuat dalam dunia pendidikan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sastra merupakan bagian intergral dalam dunia pendidikan tersebut yang diajarkan di tiap jenjang pendidikan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.

Pengajaran sastra mencakup ketiga genre sastra, yakni prosa fiksi, puisi, dan drama. Dalam pengaplikasiannya, ketiganya disintesiskan dengan kegiatan menyimak dan membaca sebagai aktivitas reseptif siswa. Disintesiskan juga dengan kegiatan berbicara dan menulis bagi siswa, yang merupakan aktivitas produktif mereka. Hal itu berlangsung hingga pada tahap evaluasi.

Dalam pengajaran sastra itu, terdapat beberapa problematika yang harus segera diatasi oleh guru bahasa dan sastra di sekolah. Hal itu kita pandang perlu, karena problematika pengajaran sastra menyebabkan kurang optimalnya pengajaran sastra di sekolah. Akhirnya, siswa pun kurang cerdas dalam hal bersastra.

Kita tidak hanya mengharapkan output dalam pembelajaan sastra. Lebih dari itu, kita menginginkan outcome yang bagus. Contoh, proses belajar-mengajar terjadi dan akhirnya siswa memiliki pengetahuan tentang sastra. Banyak orang beranggapan bahwa contoh itu telah selesai. Padahal, dalam contoh itu hanya sampai pada output. Kita menginginkan siswa di lapangan dapat mengapresiasi, menganalisis, dan juga dapat memproduksi karya sastra sebagai outcome dalam pengajaran sastra di sekolah.

Selama ini, pengajaran sastra di sebagian besar sekolah hanya terjadi dalam ruang yang diapit dinding kelas. Hasilnya, daya imajinasi dan kreasi siswa kurang berkembang optimal. Misalnya, ketika siswa mendapatkan tugas membuat puisi berkenaan dengan alam. Namun, guru yang bersangkutan tidak mengajak mereka ke alam terbuka. Padahal di ruang tertutup dinding kelas, kurang mendukung dalam menumbuhkembangkan daya imajinasi dan kreasi mereka dalam proses penciptaan puisi.

Itu merupakan salah satu problematika dalam pengajaran sastra di sekolah. Seharusnya, guru mengajak siswa keluar, ke alam terbuka dan membantu mereka dalam proses penciptaan karya sastra.

Problematika yang lain, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah kurang menumbuhkembangkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Sebenarnya guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat mengusahakan karya sastra siswa dimuat di media massa, dalam bentuk buku sastra, melalui media elektronik yakni internet dan radio.

Hal terakhir ini sangat bagus dalam menumbuhkembangkan potensi sastra yang ada dalam diri siswa. Mereka akan tertantang untuk membuat dan memublikasikan karya sastra mereka secara luas dan kontinyu. Kenyataan yang lebih memprihatinkan, sebagian besar guru bahasa dan sastra tidak menjadi contoh sebagai orang yang aktif membuat dan memublikasikan karya sastra di media massa, dalam buku sastra, dan media elektronik.

Selain itu, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah juga sangat kurang memperkenalkan sastrawan Kalimantan Selatan kepada siswa. Oleh karena itu, wajar jika sebagian besar siswa tidak mengenal sastrawan Kalimantan Selatan. Padahal, biodata dan karya sastrawan Kalimantan Selatan merupakan pengetahuan sastra yang harus dimiliki siswa di tiap jenjang pendidikan di sekolah. Seharusnya, guru bahasa dan sastra tidak hanya memperkenalkan sastrawan dari Pulau Jawa, Sumatera, atau dari pulau lainnya kepada siswa.

Perlu kita ketahui, bahwa sebagian sastrawan Kalimantan Selatan juga sudah menjadi sastrawan nasional di Indonesia. Sebut saja dua contohnya, Jamal T Suryanata dan Arsyad Indradi. Karya sastrawan Kalimantan Selatan pun layak menjadi bahan pelajaran sastra di tiap jenjang pendidikan di provinsi ini.

Dengan demikian, siswa juga dapat membuat karya sastra berbahasa Banjar karena sastrawan Kalimantan Selatan juga ada yang menggunakan Bahasa Banjar dalam berkarya sastra. Bahasa Banjar pun akhirnya bertambah lestari. Problematika yang ketiga itu juga harus segera diatasi, agar pengajaran sastra di sekolah dapat berlangsung secara baik dan benar.

Hal yang tidak kalah memprihatinkannya dalam pengajaran sastra di provinsi ini, adalah berkenaan dengan sastra daerah Kalimantan Selatan. Banyak guru bahasa dan sastra yang kurang menyinggung apalagi membelajarkan sastra daerah Kalimantan Selatan, seperti mamanda, lamut, dan madihin kepada siswa. Padahal sastra daerah Kalimantan Selatan perlu sekali diajarkan dengan porsi yang memadai di semua sekolah. Hal itu sangat bagus dalam rangka melestarikan khazanah kekayaan sastra dan bahasa Banjar di provinsi ini. Problematika keempat itu merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Sastra daerah Kalimantan Selatan seharusnya diajarkan oleh guru bahasa dan sastra kepada siswa.

Kini, saatnya guru bahasa dan sastra di sekolah mengatasi problematika pengajaran sastra seperti paparan di atas. Hal itu guna kemajuan sastra di provinsi kita. Bagaimana menurut Anda?

Pengurus Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar
Terbit di Banjarmasin Post, Senin, 2 Februari 2009 |