Rabu, 01 April 2009

Sultanah


Dari : Fahmi Fakih

Bagi yang mengira tingginya derajat dan kemuliaan hanyalah milik lelaki, kiranya layak untuk menyimak cerita ini. Cerita dimana cinta dan kasih sayang, sikap adil serta kearifan, bersipadu dalam diri seorang ibu.
Alkisah, malam itu udara kota Mekkah begitu dingin, angin tajam terasa perih menggerus kulit. Seorang lelaki tua, seorang sufi yang masyhur namanya, Abdul Qadir Jailani, berjalan sendirian memasuki gerbang kota yang gelap menuju Ka’bah, rumah Tuhan itu. Dalam hati, Abdul Qadir membatin dengan penuh rasa syukur. “Ya Allah, terima kasih atas cuaca baik yang telah Kau datangkan untuk menemaniku bersujud kepadaMu.”
Beginilah sifat dan perilaku manusia yang hatinya telah dipenuhi oleh cinta. Situasi yang jelas-jelas tidak bersahabat, yang seringkali kita mengeluh karenanya, di hadapan orang seperti ini malah diterima dengan kegembiraan yang tulus sebagai karunia.
Setelah melewati gerbang kota, Abdul Qadir tiba-tiba dikejutkan oleh satu sinar terang yang terlihat berputaran mengelilingi Ka’bah. Abdul Qadir tidak bisa memastikan benda apakah yang ada di sana, karena jarak antara dirinya dan Ka’bah masih jauh dari langkah. Namun perlahan, seiring tapak kakinya yang semakin dekat, Abdul Qadir tahu, bahwa sosok putih itu bukanlah sebuah benda, melainkan manusia!
Keterkejutan Abdul Qadir kiranya tak hanya sampai di sini. Yang lebih membuat sufi besar ini takjub, adalah kenyataan bahwa manusia yang dilihatnya itu seorang perempuan setengah baya dengan sebelah kaki yang buntung pula! Sisa darah masih terlihat jelas di lukanya. Perempuan itu berthawaf - ibadah dengan cara mengelilingi Ka’bah sambil berdo’a - terlihat begitu khusuk hingga tidak merasakan kehadiran seseorang yang berdiri takjub memandanginya. Abdul Qadir seketika mengurungkan niatnya untuk berthawaf dan memilih menunggui perempuan itu menyelesaikan thawafnya.
Setelah perempuan itu selesai dengan thawafnya, Abdul Qadir lalu datang menghampiri sambil memberi salam padanya. Perempuan itu berpaling seraya menjawab salam sang guru. Abdul Qadir kemudian bertanya. “Siapakah engkau wahai perempuan salehah, dari mana asalmu, dan apa yang menyebabkan sebelah kakimu buntung?” Perempuan itu lalu bercerita tentang dirinya, dan sebab yang menjadikan kebuntungan kakinya.
“Wahai Abdul Qadir, saya tinggal di luar kota, arah utara dari Baitullah ini. Saya seorang janda dengan anak yang masih kecil. Beberapa hari lalu, saya dirundung perasaan rindu yang sangat untuk datang ke rumah suci ini. Namun, karena anak saya selalu menangis jika malam tiba, rasa rindu itu hanya bisa saya simpan dalam hati. Sebab walau bagaimanapun, wahai Abdul Qadir, saya tidak mungkin meninggalkan anak saya dalam keadaan menangis, meski untuk sebuah rindu yang bersangatan. Dan saya yakin, Tuhan pasti tidak akan berkenan menerima ibadah yang saya kerjakan dengan menelantarkan anak saya.
Sampai tadi malam selepas menunaikan salat isya, anak saya kembali menangis. Bahkan kali ini tangisannya begitu keras melolong-lolong, seakan ada sesuatu yang menakutkan dalam penglihatannya. Dengan hati sedih, saya lalu mengambil anak itu dari tilam tipis yang kami punya. Saya pangku ia, saya coba menenangkannya dengan syair puji-pujian yang dulu sering dinyanyikan almarhumah ibu saya ketika saya masih kanak-kanak.
Saya terus bernyanyi. Saya terus bernyanyi dengan syair puji-pujian itu sambil mengusapi kepala anak saya. Perlahan-lahan, tangisan itu mereda, mata itu mulai redup, dan nafas yang mulanya tersengal itu, mulai tenang kembali. Anak saya tertidur, anak saya tertidur di atas paha saya. Dan bersamaan dengan itu pula rasa rindu saya semakin tak tertahankan. Laksana gunung, ia terus-menerus menghimpit perasaan saya. Saya ingin pergi mengejawantahkan rindu saya, saya ingin secepatnya menghadap Tuhan, saya ingin berkhidmat di rumah suciNya. Tapi bagaimana dengan anak saya yang sedang tidur?
Dalam kebingungan itu, saya teringat pedang almarhum suami saya yang tergantung di dinding tempat saya bersandar duduk. Jaraknya hanya sejengkal dari kepala saya. Tanpa pikir panjang, lalu saya ambil pedang itu dan saya potong paha yang jadi bantal tidur anak saya! Wahai Abdul Qadir, kamu tahu apa yang saya rasakan ketika pedang itu mulai memotong paha saya? Sedikitpun saya tidak merasakan sakit! Yang ada hanya perasaan lega karena dengan demikian saya bisa pergi menunaikan kewajiban saya kepada Tuhan dengan tetap bertanggung jawab atas kewajiban saya sebagai seorang ibu kepada anaknya.”
Mendengar pengakuan ini, diceritakan, ruh Syeikh Abdul Qadir Jailani naik ke Lauhul Mahfudh - suatu tempat di langit ketujuh di mana nama-nama dan peristiwa tercatat. Akan tetapi sesampainya di sana, Abdul Qadir tidak menemukan nama perempuan itu. Ini sangat aneh bagi Abdul Qadir. Sebab menurut kebiasaannya, setiap orang yang dipilih Tuhan menjadi walinya di muka bumi, nama mereka pasti tercatat di Lauhul Mahfudh!
Belum lagi selesai rasa heran atas kenyataan ganjil yang ditemuinya, ketika ruh itu kembali ke jasadnya, sebelum Abdul Qadir menanyakannya, perempuan itu, ibu yang teramat penyayang itu, sudah mendahului Abdul Qadir dengan perkataan. “Wahai Abdul Qadir, engkau tidak perlu bersusahpayah mencari tahu namaku ke Lauhul Mahfudh. Namaku Sultanah. Dan Tuhan telah menuliskan namaku bersanding dengan para nabiNya di Ummul Kitab, tempat yang lebih tinggi dari Lauhul Mahfudh.”
Setelah mengatakan ini, ibu itu pun pamit, kembali pulang ke rumahnya. Pulang kepada anak tercinta yang tidur lelap di atas potongan pahanya. Tak lama kemudian meneteslah airmata Abdul Qadir, tak kuasa menahan perasaan hatinya yang bahagia karena telah dipertemukan dengan perempuan mulia seperti Sultanah.

Karang Menjangan, 17 Maret 2006
Fahmi Faqih

Kamis, 19 Maret 2009

Problematika Pengajaran Sastra di Sekolah


Oleh: Mahmud Jauhari Ali

Di tengah ramainya tuntutan guru untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak bagi mereka, sudahkah mereka itu berkontemplasi.

Maksudnya adalah merenungi atas hal yang telah mereka perbuat dalam dunia pendidikan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sastra merupakan bagian intergral dalam dunia pendidikan tersebut yang diajarkan di tiap jenjang pendidikan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.

Pengajaran sastra mencakup ketiga genre sastra, yakni prosa fiksi, puisi, dan drama. Dalam pengaplikasiannya, ketiganya disintesiskan dengan kegiatan menyimak dan membaca sebagai aktivitas reseptif siswa. Disintesiskan juga dengan kegiatan berbicara dan menulis bagi siswa, yang merupakan aktivitas produktif mereka. Hal itu berlangsung hingga pada tahap evaluasi.

Dalam pengajaran sastra itu, terdapat beberapa problematika yang harus segera diatasi oleh guru bahasa dan sastra di sekolah. Hal itu kita pandang perlu, karena problematika pengajaran sastra menyebabkan kurang optimalnya pengajaran sastra di sekolah. Akhirnya, siswa pun kurang cerdas dalam hal bersastra.

Kita tidak hanya mengharapkan output dalam pembelajaan sastra. Lebih dari itu, kita menginginkan outcome yang bagus. Contoh, proses belajar-mengajar terjadi dan akhirnya siswa memiliki pengetahuan tentang sastra. Banyak orang beranggapan bahwa contoh itu telah selesai. Padahal, dalam contoh itu hanya sampai pada output. Kita menginginkan siswa di lapangan dapat mengapresiasi, menganalisis, dan juga dapat memproduksi karya sastra sebagai outcome dalam pengajaran sastra di sekolah.

Selama ini, pengajaran sastra di sebagian besar sekolah hanya terjadi dalam ruang yang diapit dinding kelas. Hasilnya, daya imajinasi dan kreasi siswa kurang berkembang optimal. Misalnya, ketika siswa mendapatkan tugas membuat puisi berkenaan dengan alam. Namun, guru yang bersangkutan tidak mengajak mereka ke alam terbuka. Padahal di ruang tertutup dinding kelas, kurang mendukung dalam menumbuhkembangkan daya imajinasi dan kreasi mereka dalam proses penciptaan puisi.

Itu merupakan salah satu problematika dalam pengajaran sastra di sekolah. Seharusnya, guru mengajak siswa keluar, ke alam terbuka dan membantu mereka dalam proses penciptaan karya sastra.

Problematika yang lain, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah kurang menumbuhkembangkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Sebenarnya guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat mengusahakan karya sastra siswa dimuat di media massa, dalam bentuk buku sastra, melalui media elektronik yakni internet dan radio.

Hal terakhir ini sangat bagus dalam menumbuhkembangkan potensi sastra yang ada dalam diri siswa. Mereka akan tertantang untuk membuat dan memublikasikan karya sastra mereka secara luas dan kontinyu. Kenyataan yang lebih memprihatinkan, sebagian besar guru bahasa dan sastra tidak menjadi contoh sebagai orang yang aktif membuat dan memublikasikan karya sastra di media massa, dalam buku sastra, dan media elektronik.

Selain itu, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah juga sangat kurang memperkenalkan sastrawan Kalimantan Selatan kepada siswa. Oleh karena itu, wajar jika sebagian besar siswa tidak mengenal sastrawan Kalimantan Selatan. Padahal, biodata dan karya sastrawan Kalimantan Selatan merupakan pengetahuan sastra yang harus dimiliki siswa di tiap jenjang pendidikan di sekolah. Seharusnya, guru bahasa dan sastra tidak hanya memperkenalkan sastrawan dari Pulau Jawa, Sumatera, atau dari pulau lainnya kepada siswa.

Perlu kita ketahui, bahwa sebagian sastrawan Kalimantan Selatan juga sudah menjadi sastrawan nasional di Indonesia. Sebut saja dua contohnya, Jamal T Suryanata dan Arsyad Indradi. Karya sastrawan Kalimantan Selatan pun layak menjadi bahan pelajaran sastra di tiap jenjang pendidikan di provinsi ini.

Dengan demikian, siswa juga dapat membuat karya sastra berbahasa Banjar karena sastrawan Kalimantan Selatan juga ada yang menggunakan Bahasa Banjar dalam berkarya sastra. Bahasa Banjar pun akhirnya bertambah lestari. Problematika yang ketiga itu juga harus segera diatasi, agar pengajaran sastra di sekolah dapat berlangsung secara baik dan benar.

Hal yang tidak kalah memprihatinkannya dalam pengajaran sastra di provinsi ini, adalah berkenaan dengan sastra daerah Kalimantan Selatan. Banyak guru bahasa dan sastra yang kurang menyinggung apalagi membelajarkan sastra daerah Kalimantan Selatan, seperti mamanda, lamut, dan madihin kepada siswa. Padahal sastra daerah Kalimantan Selatan perlu sekali diajarkan dengan porsi yang memadai di semua sekolah. Hal itu sangat bagus dalam rangka melestarikan khazanah kekayaan sastra dan bahasa Banjar di provinsi ini. Problematika keempat itu merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Sastra daerah Kalimantan Selatan seharusnya diajarkan oleh guru bahasa dan sastra kepada siswa.

Kini, saatnya guru bahasa dan sastra di sekolah mengatasi problematika pengajaran sastra seperti paparan di atas. Hal itu guna kemajuan sastra di provinsi kita. Bagaimana menurut Anda?

Pengurus Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar
Terbit di Banjarmasin Post, Senin, 2 Februari 2009 |

Selasa, 10 Maret 2009

"Kalalatu" Ekspresi Arsyad Indradi Dlm.Intrinsik Puisi


Oleh : Noor Hana

Bahasa lisan selalu dituntun oleh pengujar atau pembicaranya. Sedangkan sebuah teks tertulis memiliki maknanya sendiri setelah dipublikasikan. Artinya, kalau kita terlibat dalam suatu pembicaraan lisan maka maksud pembicara yang belum jelas dapat dipertegas dengan mengajukan pertanyaan kepada pembicara tersebut. Sebaliknya, sebuah teks, dalam hal ini puisi, tidak lagi sepenuhnya tergantung pada penjelasan yang diberikan oleh penyair tetapi tergantung pada tafsir pembaca atas puisi tersebut.
Antologi Puisi “Kalalatu” karya Arsyad Indradi yang kental dengan nuansa tanah Banjar ini mengajak saya untuk menjelajahinya baik dari situasi bahasa, tema, bahasa puisi mau pun bentuk puisi. Baca selanjutnya klik disini,-

Sabtu, 07 Maret 2009

Situs Baru Saya

Harapan saya Anda dapat juga berkunjung ke situs saya yang baru dan mohon saran dan masukkannya. Klik http://arsyadindradi.net Terima kasih. A.Indradi ***

Rabu, 04 Maret 2009

Aruh Blogger 09


Bulan Maret 2009 mendatang Blogger Kalsel Kayuh Baimbai bekerja sama dengan Speedy Telkom akan mengadakan “ Aruh Blogger 09 “ yakni Ajang Terbuka Bagi Blogger dan Masyarakat Kalimantan Selatan dengan beberapa kegiatan lomba :
• Posting Contest
• Photo Contest
• Blogger Action Week
• Blogger Gathering

Hadiahnya ? Wow Jutaan Rupiah ! Jangan ketinggalan ayo daftar !!!!!!!!!
Tempat mendaftar dan petunjuk lainnya klik situs www.aruhblogger.com

Salam blogger
Arsyad Indradi

Jumat, 06 Februari 2009

" Pemilu, Janji dan Nasib Kita 5 Tahun ke Depan "

Membaca artikel di atas oleh http://sailakotabaru.blogspot.com sungguh sangat menarik. Dan timbul pemikiran saya untak memberikan tanggapan.berupa tulisan kecil ini. ( Agar pengunjung dapat membaca artikal di atas klik saja pada situs di atas)
Sebenarnya kita punya parlemen seperti dalam UUD 1945 segenap perangkatnya. Namun inilah buah si malakama bagi rakyat Indonesia. Dan buah si malakama inilah yang menjadikan penderitaan rakyat yang tidak pernah berkesudahan. Memilih, berbuah kekecewaan karena yang dipilih tidak betul-betul melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya setelah terpilih. Tidak memilih, maka ia tidak menjadi warga negara yang baik, bahkan MUI mempatwakan haram. Dalam hal ini seyogyanyalah bagi caleg-caleg intropeksi pada dirinya sendiri dan menyadari sepenuhnya apakah ia layak dan betul - betul sanggup mengemban amanat penderitaan rakyat. Dan pihak KPU harus benar-benar selektif dengan kereteria dan persyaratan yang ketat untuk meloloskan seorang caleg. Seorang caleg bukan seseorang yang memiliki banyak “ iming-iming “ dan “ uang pelicin “. Tetapi punya “ Visi dan Misi “ realistis sebagai seorang negarawan untuk bangsa dan Negara. Dipihak lain adalah rakyat sendiri. Rakyat hendaknya sudah tidak bodoh lagi untuk menentukan pilihannya. Rakyat sudah pintar membaca apakah layak atau tidak siapa – siapa figur yang terpampang baik di Poster, spanduk atau pun di Baliho dengan slogan - slogannya.
Seorang caleg yang bertitel dari perguruan tinggi atau caleg yang berpakaian agama. tidak jadi jaminan yang mutlak, tetapi titel berkepribadian yang luhur, jujur, berjiwa semangat membangun, penuh dedikasi, bertanggung jawab adalah pangkal utama untuk bangsa dan negara. Seorang legislatif, eksekutif dan yudikatif adalah manusia yang sadar dan tahu apa kehendak rakyat, bangsa dan negara ini. Semoga Tuhan memberikan jalan yang terang bagi kita semua. Amin.*** Arsyad Indradi.

Sastra Sufi, Sastra Psikoterapi

Oleh: Syarif Hidayat Santoso

Dunia sastra memang unik, dia menampung beraneka citarasa yang terbenam dalam pikiran manusia. Berbagai citarasa itu kemudian terhampar dalam ekspresi dialogis dalam relasinya dengan realitas di lapangan. Seorang sastrawan sebenarnya merupakan juru bicara zamannya, entah dia gelisah, kecewa, sedih ataupun justru terpesona dan menjadi supporter zaman tempat dia hidup.
Beraneka ragam fungsi sastra. Sebagai pembenar zaman terkadang ia harus secara vulgar berpihak terhadap kepentingan ideologi dimana ia merasa terpayungi. Konsistensi sastra kontemporerpun menunjukkan betapa kayanya tujuan spesial dari hamparan sastra di area publik. Mulai dari sastra pesantren, sastra sufi, sastra etnis, maupun sastra yang terpaksa lahir karena kepentingan membela sebuah rezim tertentu.
Tapi, adakah yang berpikir fungsi sastra bagi kesehatan kejiwaan manusia. Apakah inovasi kreatif terbaru sastra selain korelasi sinergisnya dengan kepentingan publik selaras kesamaan logika sang sastrawan. Secara fitriah, sastrapun dapat digunakan untuk memperkaya bingkai kemanusiaan kita tentunya dengan sebuah syarat mutlak, sastra yang menyehatkan mental adalah sastra yang berketuhanan. Sastra yang lekat dengan kedaulatan humanistik yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia sejak zaman azali. Sastra yang menurut Quran diajarkan oleh penyair yang beriman dan beramal saleh dan banyak dzikrullah (QS 26:227)
Sudah saatnya, dunia sastra mengambil varian seperti ini. Korporasi kejiwaan manusia dalam Islam memang telah terbukti dari perjalanan sastra sufistik yang terlegalisasikan dalam tarekat sejak lama. Beragam syair religius dibacakan disela-sela ritual majelis dzikir. Pada Manaqib Syekh Abdul Qadir Jaelani yang biasanya dipraktekkan tarekat-tarekat yang berafiliasi kepada ordo Qadiriyah minimal terdapat tiga pembacaan doa yang berirama sastrawi dan berseni. Pertama pada istighotsah pembuka, berupa syair Yaa Arhamar Rahimin yang dilagukan. Kedua, pada pembacaan lafal asmaul Husna yang diiramakan dengan sangat syahdu, serta pada fase terakhir pembacaan Nazam Manaqib, biasanya syair seruan Ibadallah Rijalallah.
Eksotisme ini bahkan menjadi lebih menarik kalau kita mencermati tarekat Maulawiyah dimana pembacaan syair tentang Tuhan justru merupakan puncak ritual diantara beraneka gaya berdzikir. Dimulai dengan azan, kemudian dzikir tarekat, dilanjutkan dengan The Whirling Darwisy (tarian berputar khas Darwis) kemudian diakhiri puisi-puisi yang dihadirkan mursyid yang terkadang berada dalam kondisi ekstase. Ketika itulah jamaah tarekat merasakan tajalli dan penyingkapan hijab dengan Tuhan. Menurut mereka, ketenangan jiwa yang luar biasa mereka rasakan saat itu.
Dalam era modern, sastra dan religiusitas lebih banyak dikotomis dan memilih areanya sendiri-sendiri. Kekuatan-kekuatan tarekat tak banyak lagi menelurkan irama sastrawi selain yang telah terpakemkan. Sementara biosfer sastra kontemporer malah terkadang mepertanyakan keabsahan Tuhan. Sastra modern sebagian membuat demarkasi antara Tuhan dan keindahan sastra. Invasi sastra barat yang mengejek eksistensi Tuhan, sedikit banyak mewarnai lunturnya estetika sastra religius. Meskipun apologi mereka dapat dibenarkan bahwa dunia sastra jangan terjebak pada “kebajikan kata-kata”, tapi sejauhmana pesan universal yang diniatinya dapat dihijrahkan. Memang, pada tataran dunia sastra sekular, logika ini dapat diterima, tapi dalam perspektif sastra “surgawi” hal ini bisa dituding pemubaziran kata-kata semata-mata.
Kegersangan spiritualitaspun dapat diobati dengan penerjunan sastra religius dalam bingkai psikoterapi. Hal ini didasari pandangan bahwa nilai psikologi modern telah mempertanyakan keabsahan postulat liberal yang mereka anut. Sementara di sisi lain, telah bermunculan aliran psikoterapi yang menggunakan ajaran agama sebagai pondasi terapi mental. Klub seperti association of Mormon Counselor and Psychoteraist, Christian Association For Psychological Studies, American Chatolic Psycological Association telah lebih dulu berkembang di barat, meskipun tidak menggunakan sastra sebagai salah satu faktor penyembuhnya.
Kini, saatnya sastra sufisme yang berjalin dengan dzikrullah digunakan sebagai terapi mental keringnya lahan kemanusiaan modern. Dalam tataran ini, sastra dalam bentuknya yang beragam baik puisi, syair, hikayah dan sebagainya dapat digunakan sebagai pengantar menuju dzikrullah. Nuansa sakralitas Tuhan ala sufisme seperti tajalli, muraqabah, mujahadah, mukasyafah, hijab dan sebagainya dapat diperjelas dengan ungkapan estetik bernuansa sastrawi. Tanpa interpretasi melalui dunia sastra, sulit bagi “manusia biasa” menyelami keindahanNya. Tidak ada yang dapat menggambarkan keindahan Tuhan kecuali kalimat sastra yang tidak menegasikannya. Penerjemehan aspek ketuhanan dalam sastra adalah ekspresi eksoteris dari tasawuf, sementara kedahsyatan dzikir adalah imbangan esoterismenya.
Kita perlu menghidupkan tradisi sastra tasawuf yang dapat menggambarkan Tuhan tidak dalam bentuk sakralitas parsial namun diutarakan dengan sangat indah maknawi. Ekologi tarekat yang dulu rajin menggaungkan sastra tentang Tuhan wajib dihadirkan kembali. Bukan tidak mungkin, ini dapat mengerem laju deras sastra atheis yang eksistensinya justru mereduksi keberagamaan kita.
Kepribadian meaningless karena peranan sastra yang melulu bertipe machine model akibat referensi ideologis membabi buta bukan tidak mungkin dapat menyebabkan existensial frustation yang dapat mempercepat arus apatisme terhadap keberagamaan. Bukannya malah mencerahkan dalam cita-cita zeitgeist zaman, sastra tanpa cita-cita memuliakan fitrah ketuhanan malah bisa membuat ruwet dan kebosanan (boredom) kejiwaan kita. Sastra tasawuf yang kaya dengan dialektika jiwa dengan Tuhan di masa kini, dapat diandalkan untuk menyelami urgensi degradasi humanisme yang kian membelit religiusitas publik. Namun, persebaran sufisme dalam dunia sastra harus berpondasikan kepada krusialitas tasamuh (toleransi )

Penulis adalah Alumnus Hubungan Internasional FISIP UNEJ.

Senin, 02 Februari 2009

Pantun Banjar ( A.Indradi )

Rumah Banjar batawing papan
Lawangnya bapalang watun
Assalamulaikum kami ucapkan
Handak bamula marangkai pantun

Anak punai maurak alar
Bajalan bajingkit-jingkit
Umai-umai pangéntén Banjar
Basésérétan tangan bakait

Maracik pandan wan pudak
Lalu dihambur kapatataian
Urang malihat badaraw surak
Pangénténnya kasisipuan

Burung bilatuk duduk baréndéng
Baréndéng di kayu jati
Pangénténnya duduk basanding
Rupa bungas baik budi

Makan mangga buah kesturi
Maméncok asam balahan
Baik-baik mambawa diri
Hidup baiman mati baiman

Setanggi bunga kenanga
Harum baunya di tanah Banjar
Barupa bungas apalah artinya
Adat pusaka mun dilanggar

Baunya harum kambang melati
Kambang bogam kambang untaian
Sembah sujud sapuluh jari
Doa restu ulun harapkan

Ayu ja Ding lakasi luruh kalambu
Imbahitu bujurakan buncu-buncunya
Apik-apik Dinglah mamacul baju
( ai napa garang Ka. Badidiam ja Dingai )
Kéna supan katahuan abah wan uma

Daun si daun dadap
Gugurnya ka atas watun
Ada salah ampun maap
Sampai disini untaian pantun

Pantun ini kubacakan pada acara Perkawinan adik Bupati Kab.Banjar
Di gedung Pangeran Suriansyah Banjarmasin, l Feb 2009.

Rabu, 28 Januari 2009

Arsyad Indradi : Mistik Tradisional Banjar Masih Kental Dalam Cerpen " Kuyang " Karya Harie Insani Putra





Cerpenis muda Harie Insani Putra berhasil mengangkat kejadian nyata dalam masyarakat Banjar yaitu “ Kuyang “. Kuyang adalah salah satu kejadian horror yang benar – benar terjadi dalam masyarakat Banjar sampai sekarang ini masih ada. Sebagian besar generasi masyarakat Banjar terutama daerah perkotaan, banyak yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Kuyang itu. Kuyang, sejenis hantu jadi-jadian. Manusia yang dapat mengubah dirinya menjadi hantu dengan minyak yang bernama “ minyak kuyang “. Minyak tersebut dioleskan ke lehernya maka terpisahlah kepalanya dangan raga badannya. Kepalanya itu bersama isi perutnya terbang mengangkasa pada malam hari dengan sinar kebiru-biruan yang berkelap-kelip. Kuyang mencari mangsanya manakala ia mendengar ada yang akan melahirkan. Sebab makanan kuyang itu adalah darah yang keluar dari sang ibu yang melahirkan. Bahkan sang ibu bisa celaka karena kehabisan darah dihisap kuyang. Harie dalam cerpennya begitu bagus meramu ceritanya antara mistik tradisional Banjar dan relegius Sebenarnya kedua hal ini sangat bertentangan Namun Harie berhasil mempertemukannya dengan tidak saling bersinggungan. Cerpen Kuyang, menceritakan keluarga Irham dan Tanti. Tanti isterinya kesakitan yang luar biasa mau melahirkan. Irham agak panik. Tanti menyuruh Irham untuk mencari dukun beranak dan ke puskesmas minta pertolongan medis. Sebelum berangkat Irham berdoa minta pertolongan Allah atas keselamatan isterinya dan menyerahkan tongkat kayu “ palawan “ kepada isterinya. Tongkat Palawan adalah penangkal kuyang pemberian Acil Midah, bibinya. Padahal dia sangat berat atas pemberian itu karena dia lulusan pesantren. Agar bibinya senang hati, diterimanya juga pemberian bibinya itu. Irham bertemu Masitah dukun beranak. Di rumah, Tanti menjerit kesakitan atas pijatan-pijatan dukun beranak yang kasar terhadap dirinya, sehingga banyak mengeluarkan darah. Masitah dengan menyeringai diselingi tertawa-tawa menjilati darah yang keluar dari tubuhnya. Tanti melihat kelakuan Masitah ini takut setengah mati dan menjerit sekuatnya minta tolong. Masitah ternyata Kuyang. Tanti meronta dan melempari Masitah dengan bantal dan guling. Masitah sangat marah karena tidak dapat membujuk Tanti.. Kemudian dia mengambil sebuah botol kecil berisi minyak yang ada di balik bajunya lalu dioleskan kelehernya seketika itu juga berubahlah dia menjadi Kuyang, hantu yang mengerikan, rambutnya yang panjang posisi terbalik hampir menutupi mukanya. Jeritan Tanti terdengar oleh tetangga. Dan berbondong – bondong berusaha menolongnya dengan mencoba mendobrak pintu yang terkunci. Padahal tadinya pintu itu tak berkunci tetapi terkunci dengan sendirinya. Ketika kuyang terbang mengitari Tanti dan akan menerkamnya, Tanti ingat tongkat kayu palawan lalu dipukulkan kepada kuyang itu. Kuyang melolong kesakitan dan menjerit – jerit. Timbul keberanian Tanti. Usus kuyang itu dibetotnya sehingga kuyang itu jatuh terjerembab. Bertepatan, Irham datang bersama tetangganya masuk setelah pintu terbuka. Dan tetangganya itu memukuli kuyang itu hingga tak berdaya. Kemudian mencari tubuh Masitah, ternyata ada di dalam lemari pakaian. Dengan mengucapkan syukur kepada Allah atas pertolongannya, Irham langsung membawa Tanti dengan ambulace ke puskesmas
Cerpen Kuyang ini niscaya akan memenangkan pemenang terbaik dalam lomba menulis cerpen se Kalsel dalam acara Aruh Sastra V se Kalsel Desember 2008 di Kabupaten Balangan tetapi hanya menduduki Harapan II. Sebab menurut penjelasan salah satu dewan juri ada kesalahan yang dianggap patal yaitu di bagian ketiga suami Tanti tertulis nama lain.
Tapi kita patut mengacungkan jempol pada Harie. Bahwa Harie menulis cerpen ini langsung di laptop dengan waktu yang relative singkat, satu malam setengah hari persis batas waktu penutupan peserta, langsung diantar ke panitia lomba. Jadi, Harie hampir – hampir tidak ada kesempatan untuk mengedit secara sempurna, tambahan lagi dalam keadaan sudah mengantuk. Pada acara Aruh Sastra V tersebut peserta dari Kabupaten, banyak memilih Kuyang untuk diangkat dalam lomba Pertunjukan Sastra.***

Kamis, 22 Januari 2009

Ultah Blogger Kalsel Kayuh Baimbai ke-1



Membentuk suatu wadah yang dinamakann komunitas adalah dorongan untuk menyamakan visi dan misi, persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan.
Tujuan adalah kehendak yang dirumuskan dengan azas kebersamaan. Hal ini terjadi pada komunitas blogger Kalsel yang bernama Kayuh Baimbai. Komunitas yang relatif masih muda ini berdiri pada tanggal 20 Januari 2008 hingga 20 Januari 2009 telah berusia 1 tahun. Walau pun masih muda namun telah menunjukkan kemajuan yang pesat baik pertumbuhan anggotanya, kegiatan positifnya di dunia cyber khususnya internet, saling tukar informasi, berbagi ilmu pengetahuan di bidang teknologi internet maupun silaturahmi di maya dan di nyata. Kayuh Baimbai telah memperingati hari ulang tahunnya yang ke-1. Nampak keharuan dan kebahagiaan memancar dari wajah-wajah anggotanya dalam suatu acara yang cukup sederhana namun meriah. Pada acara itu hadir pula orang-orang Telkom dan simpatisan Kayuh Baimbai, tak beranjak sampai acara usai.
Tak ada kata lain yang dapat kita ucapkan selain : Selamat Ulang Tahun yang ke-1. Semoga Tuntung Pandang Ruhui Rahayu. Salam kreatif buat Blogger Kalsel Kayuh Baimbai (A.Indradi)

Selasa, 20 Januari 2009

MEMANFAATKAN INTERNET DI DUNIA SASTRA

: Arsyad Indradi ( Maungkai gagasan Sainul Hermawan ketika di Aruh Sastra Kalsel III
di Kotabaru )

Selama ini sastrawan telah memanfaatkan media cetak untuk menampilkan karya – karyanya seperti buku, koran atau pun majalah. Maka, di era globalisasi yang melaju pesatnya perkembangan teknologi ini, apa salahnya kalau kita juga ikut serta memanfaatkan teknologi ini sebagai salah satu media alternatif untuk menampilkan karya – karya sastra.Baca selanjutnya klik disini.

Menghayati Peran Komunitas Sastra

Akhirnya pesta itu usai. Sebuah pesta sastra yang melibatkan sekitar 500 orang peserta. Mereka adalah sastrawan (penyair, esais, cerpenis, dan kritikus) bersama para penggemar sastra dan guru bahasa Indonesia. “Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia”, demikian tema yang digelar. Sepanjang tiga hari kegiatan berlangsung demikian padat di gedung DPD Kudus. Sungguh sayang bila dilewatkan begitu saja. Baca selanjutnya klik disini.

Kemampuan Anak Bergelombang

Oleh : Aliansyah Jumbawuya ( Wartawan Serambi Ummah )

Penyair Igbal pernah mengatakan, betapa banyak anak – anak yang pintar di kelas ternyata berjatuhan dalam ujian kehidupan. Kenyataan ini seyogyanya patut menjadi renungan bagi orang tua.

Tidak jarang terjadi karena orang tua berambisi anaknya dapat rangking kemudian diikut sertakan les. Kadang mereka pulang ke rumah sampai jam 5 sore. Padahal, sebelumnya di sekolah mereka sudah capek. Tak ada lagi waktu untuk istirahat.
“ Anak kalau terlalu dipres, akhirnya dia bisa jenuh. Bukan lagi menerima pelajaran, malah kebingungan sendiri,” komentar Arsyad Indradi.“ Bahkan, lanjutnya, ada anak yang setiba di rumah, sepatu belum lagi dilepas, buku dilempar, langsung merebahkan tubuh di ranjang.Tak lama kemudian ketiduran dengan masih mengenakan baju seragam, akibat kelelahan.
“ Sebenarnya ikut les itu bagus-bagus saja, tapi jadwalnya diatur jangan sampai terlalu padat. Apalagi maksud les itu sekadar pengayaan, sebab guru yang ideal itu memberikan pelajaran sesuai target kurikulum,” ujar Pengawas Seni Budaya Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar ini. Karena itu, Arsyad Indradi menyarankan sebaiknya anak diikut sertakan les pada bidang tertentu saja yang kurang dikuasainya. Yang penting itu, sambungnya, menumbuhkan minat anak untuk belajar. Bila belajar sudah menjadi kebutuhan anak, dia akan berinisiatif sendiri untuk memperkaya wawasannya. Misalnya, mencari bahan-bahan pelajaran di internet. Bagus lagi, anak setiap hari belajar dan meresume.
Sebagai orang yang bergelut puluhan tahun di dunia pendidikan, Arsyad sering memperhatikan anak-anak yang jenius kebanyakan saat istirahat selalu di perpustakaan. Mereka membaca buku sambil mendengarkan musik.
“ Ada paradigma lama, apabila hendak ujian baru bahimat(giat) belajar, padahal cara seperti itu sangat merugikan. Akibat terlalu tinggi malam belajar, akhirnya mengantuk,” kritiknya. Anak yang pintar, kata Arsyad, dua hari menjelang ujian justru istirahat, tidak belajar lagi. Ia mengumpulkan energi supaya pas ujian fit, karena sebelumnya tiap hari sudah belajar.
Setiap orang tua wajar mengharapkan anaknya dapat rangking di kelas. Tapi, jangan lupa melihat kondisi anak seperti apa. “ Kalau takaran anak terbatas, jangan dipaksakan. Kasihan dia. Yang penting anak naik kelas atau lulus ujian,” tegas mantan Kepsek SMKN 1 Gambut ini.
Apalagi prestasi dan kemampuan anak itu bergelombang, kadang bisa jatuh, dan di lain waktu bangkit lagi. “ Intinya, kalau fisik anak sudah lemah jangan dipaksa, itu menyiksa namanya,” wanti-wanti Arsyad Indradi. Sebaliknya, kalau anak memang berpotensi dan punya minat besar untuk rangking adalah kewajiban orang tua untuk memotivasi, imbuh penyair kondang Kalsel ini. ****

Dimuat di Tabloid Serambi Ummah Jumat, 16 Januari 2009.