Selasa, 24 Juni 2014

Baca Puisi di Road Show PMK Indramayu

Arsyad Indradi baca puisi menolak korupsi di road show PMK Ponpes Hidayaturrahman Sukra  Juni 2014, jam 15.30 WIB

 


Baca Puisi Menolak Korupsi Dalam Bus

Terjebak kemacetan jalan menuju road show PMK di Ponpes Hidayaturrahman Sukra Indramayu,20 Juni 2014,di dalam bus Arsyad Indradi membaca Puisi Menolak Korupsi

Kamis, 08 Agustus 2013

Licentia Poeitica Pada Ranah Penulisan Puisi


Oleh : Arsyad Indrad
Penulis puisi memang harus menaati kaidah penulisan puisi, akan tetapi ada kalanya tidak mengindahkan kaidah itu. Menaati penulisan seperti preposisi (kata depan) "di" dan “ke” harus terpisah seperti kata "meja", di meja., ke meja, ke jalan, di jalan, ke kota, di kota, ke mana, di mana, di sini, ke sini dll. Sebab kata meja,jalan,kota, mana, sini menunjukkan tempat. Lain halnya dengan prefiks (awalan)“di” serangkai dengan kata yang bukan menunjukkan tempat, seperti : diserahkan,diminati,diambil dll.
Adalah ketidakcermatan apa bila penulisan seperti : dimana,disana,disini,ditempat,dibawah,diatas,ditengah,kemana,kesana dan lain-lain.
Bagaimana dengan kompositum (kata majemuk)?
Dalam tata bahasa Indonesia tidak ada rumus atau aturan khusus kata majemuk, yang ada cuma acuan dalam EYD dan KKBI. Seperti penulisan kata majemuk antara lain : kacamata,matahari, air mata, kereta api,barangkali,daripada dll.
Sementara, ada pertanyaan : Apa sesungguhnya kata majemuk itu ?
Sementara, ada yang menjawab : Kata majemuk atau kompositum adalah  gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang  mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantic.
Dan sementara ada yang menjawab : Kata majemuk memiliki pengertian gabungan dua kata atau lebih yang memiliki struktur tetap, tidak dapat di sisipi kata lain atau dipisahkan strukturnya karena akan memengaruhi arti secara keseluruhan.   
Dan sementara ada juga yang menjawab : Kata majemuk memiliki ciri gabungan kata yang bisa membentuk makna baru. Kalau mencermati apa seperti di EYD dan KBBI, ada penulisan kata majemuk yang penulisannya serangkai dan tidak serangkai.      
Mengapa ada perbedaan itu ? Entahlah, di EYD dan KBBI tidak menjelaskan secara tegas apa alasannya sehingga terjadi demikian.
Ada pertanyaan : Mengapa ada penggunaan atau pilihan kata (diksi) kata "kupu-kupu" dan “kupukupu” ?, Di dalam EYD atau disebagian referensi "kupu-kupu" menyebutnya adalah kata ulang (semu ?). Tentu kalau kita mengacu pada kata ulang, mesti ada kata dasarnya. Seperti "meja-meja" kata dasarnya adalah "meja". Demikian pula kalau "kupu-kupu" dikatakan kata ulang tentu kata dasarnya adalah "kupu". Akan tetapi timbul pertanyaan adakah di dalam bahasa Indonesia "kupu" ? Seperti juga "kura","paru","cumi" dan lain-lain. Lalu bagaimana kalau "kupu-kupu" adalah sebuah kata lalu dijadikan kata ulang ? Tentu,"kupu-kupu-kupu-kupu". Disini tampaknya ada pemborosan tanda baca (-). Ada sebagian penyair beranggapan bahwa "kupu-kupu" tidak ada, yang ada adalah kata padu yang tidak bisa dipisahan satu sama lainnya : "kupukupu". Seperti halnya kata padu "matahari" dan lain-lain.
Lalu apa itu : Licentia poetica ? Licentia poetica adalah kebebasan penyair berekspresi dalam ranah penulisan puisinya.
Tentu, penyair tidak semena-mena berlicentia poetica, tetapi ia harus punya alasan mengapa ia berlicentia poetica. Boleh jadi, seorang penyair harus berlicentia poetika dalam menyusun  kata-kata untuk menghasilkan efekt bunyi, nuansa, rasa, daya atau maksud khusus yang tak ada pilihan lain, yang dapat melahirkan rasa keindahan dari karya puisinya itu.
Dengan alasan tersebut di atas, mengapa penyair memilih “jungkirbalik” dari pada “jungkir balik”, “haridemihari’ dari pada “hari demi hari”, “kupukupu” dari pada “kupu-kupu”, “bulanmerahsaga” dari pada “bulan merah saga” dll. Oleh karena itu jangan diukur dengan kaidah bahasa Indonesia, tetapi, ukurlah dengan bahasa batin. ***



Sabtu, 22 September 2012





18 Puisi Cinta Arsyad Indradi di Panggung Bundar Minggu Raya Banjarbaru, 21 September 2012. Baca Puisi Cinta dan Pantun se Kalimantan Selatan

Minggu, 26 Agustus 2012

Rangkaian Kehidupan Puisi Arsyad Indradi



( Bagian 2/Habis )

Oleh : Tarman Effendi Tarsyad

JAUHKAN FATAMORGANA DI MATAKU

Mengapa aku selalu berpaling dari tatapan
Karena aku tak ingin lagi terperangkap
Sebab aku telah membaca semesta
Aku tak pernah lagi percaya pada nasib
Maka meski terus berjalan
Larat yang paling penghabisan
Adalah efitap rampungan segala jejak
Mengembalikan nafas

Dan tak lagi mengenang
musafir mengarung dunia ini
kecuali membungkus tulang belulang
dengan asmamu.

Bbaru, 2007 Selengkapnya klik di sini ...

Sabtu, 25 Agustus 2012

Rangkaian Kehidupan Puisi Arsyad Indradi

( Bagian 1 )

Oleh : Tarman Effendi Tarsyad

Arsyad Indradi lahir di Barabai, 31 Desember 1949. Arsyad Indradi termasuk penyair generasi 1970-an. Menulis puisi baik dlam bahasa Indonesia maupun bahasa Banjar. Kumpulan puisi tunggalnya dalam bahasa Indonesia yang sudah terbit, antara lain, Nyanyian Seribu Burung ( 2006a ), Romansa Setangkai Bunga ( 2006b ), Narasi Musafir Gila ( 2006c ),Anggur Duka (2009). Kumpulan puisi tunggalnya dalam bahasa Banjar dan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang sudah terbit, antara lain Kalalatu ( 2006 ) dan Burinik (2009).Selengkapnya klik disini...

Rabu, 06 Juni 2012

PEMBERONTAKAN IDEALIS RUH “SANG PENYAIR GILA”

Oleh : Awan Hadi Wismoko

Anak seorang polisi ini sangat diharapkan orang tuanya, meneruskan tradisi keluarga untuk menjadi seorang polisi. Dialah Arsyad Indradi sang penyair gila. Perjalanannya di bidang seni dan sastra sebenarnya dimulai sejak SMP, beberapa puisi tentang budaya banjar, alam kalimantan, religi, juga tentang kritik sosial telah diciptanya. Kesungguhannya untuk mencari jati diri dilakukannya saat beliau berani meninggalkan Asrama Pendidikan Kepolisian di hari pertamanya. Beruntung pelariannya tidak berujung di dunia yang penuh dengan kesesatan dan tipu daya tapi terseret masuk dalam dunia seni yang mungkin sudah ada dalam niatan kalbunya. Selengkapnya klik disini...

Senin, 02 April 2012

Epilog : Pendaran dan Pengendapan nilai-nilai ”cinta” dalam teks puisi karya Rama Prabu.


Oleh: Dimas Arika Mihardja

….jantungku dari patahan biola
dan suaraku denting pesona para pencinta
simphoni pengukur ruah mantra dari sebuah orchestra ….

(“Mantra Bosanova”)

Penggalan larik puisi karya Rama Prabu bertajuk “Mantra Bosanova” ini tampaknya mewakili keseluruhan esensi estetis dan sekaligus tematis puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini. Rama Prabu melakuka reinterpretasi maha karya Ramayana lalu merentangpanjangan jalan “cinta” hingga ke masa kini. Topik puisi yang digubah oleh Rama Prabu dapat diklasifikasikan dalam lima kategori berikut (1) tanggapan penyair terhadap masalah edukasi dalam pengertian luas, (2) tanggapan penyair terhadap masalah filosofi hidup dan kehidupan, (3) tanggapan penyair terhadap masalah moral masyarakat, (4) tanggapan penyair terhadap masalah keindahan, dan (5) tanggapan penyair terhadap masalah agama dan keyakinan. Rama Prabu sebagai bagian dari komunitas cendekiawan dan budayawan Indonesia menaruh perduli terhadap masalah edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius.Selengkapnya klik disini


Kamis, 15 Maret 2012

Penyair “ Gila “ dan Blogger Tertua

Kompas,Jumat, 17 Februari 2012

Arsyad Indradi
Penyair “ Gila “ dan Blogger Tertua

Pada usianya yang ke-63 tahun, Arsyad Indradi terus berkarya. Lebih dari 1.000 judul puisi telah ia hasilkan. Sejumlah rekan menjulukinya sebagai penyair “gila”. Baru-baru ini komunitas blogger di Tanah Air juga telah menobatkan dirinya sebagai blogger tertua di Indonesia.

Oleh : Defri Werdiono

Abah Arsyad, begitulah ia biasa dipanggil. Di kalangan sastrawan Kalimantan Selatan, sosok pensiunan pegawai negeri yang beken dengan rambut panjang ini sudah tidak asing lagi. Ia sudah malang melintangdi dunia sastra sejak puluhan tahun silam.Selengkapnya klik disini ...

Rumahku, Ruang Inspirasiku

Media Kalimantan,Minggu,5 Februari 2012


Kata sebagian orang, rumahku adalah surgaku. Ada pula yang mengatakan , rumahku istanaku. Namun, lain lagi dengan rumah versi Si “ Penyair Gila “, Arsyad Indradi ini. Pria elahiran 31 Desember 1949 ini mendefinisikan, rumah sebagai ruang inspirasinya untuk melahirkan berbagai macam puisi dan tulisan lainnya.
“ Rumahku, ruang inspirasiku” begitu Arsyad berkata ketika dikunjungi Tim Rumah Kita di kediamannya, Jalan Pramuka no.16 RT 03 RW 09 Banjarbaru.
“ Ruamahy juga sarang untuk mengistirahatkan badan. Dirumah kami menyusun rencana kehidupan , membawa dan menyelesaikan segala permasalahan. Serta tentunya, di rumah inilah tempat berkumpulnya sanak keluarga.” lanjut Arsyad.
Tinggal bersama isteri, tiga orang anak dan dua cucunya, mkeluarga sastrawan satu ini tampak begitu kompak. Seluruh dinding rumahnya dilapisi car berwarna ungu. Katanya, seisi rumah memang sangat menyukai warna ungu. “ Cocok, seisi rumah suka dengan warna ungu,” tuturnya. Selengkapnya klik disini...

Jumat, 23 Desember 2011

Arsyad Indradi diundang ke Jilfest 2011

Jakarta International Literary Festival 2011 (jilfest 2011) 2011 telah digelar pada 6 – 9 Desember 20111, bertempat di Hotel Milinium Sirih Jakarta. Jilfest ini diselenggarakan pemerintah DKI jakarta melalui dinas pariwisata dan kebudayaan, bekerjasama dengan komunitas sastra indonesia (KSI) dan komunitas cerpenis indonesia (KCI). Tema yang diangkat ” Sastra dalam Semangat Persaudaraan dan Multikulturalisme ” dan Jilfest mengangkat nilai – nilai Kesastraan Indonesia di dunia Internasional.
Peserta yang terdiri dari negara – negara Amirika Serikat, Jerman, Austria, Jepang, China, Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand dan Indonesia berjumlah seratus peserta yang diundang oleh Panitia Jilfest 2011. Acara Jilfest disamping Seminar Sastra Internasional juga diadakan Pentas Sastra seperti pertunjukan Sastra Lisan Sahibul Hikayat, Musikalisasi Puisi, Pembacaan Puisi, Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Antologi Cerpen Karya Peserta Jilfest, Wisata Budaya dan Workshop Penulisan cerpen, puisi dan musikalisasi puisi.
Sederet nama sastrawan pada pesta pembacaan puisi Sutardji Calzoum Bachri, Dimas Arika Mihardja, Arsyad Indradi, Habiburrahman el-Shirazy,John McGlinn, Berthold Damshauser, Nik Abdul Rakib dll.
Pada acara penutupan memberikan kesan dan pesan dari peserta, Arsyad Indradi wakil peserta Indonesia dan Dr.Nick Abdul Rakib bin Nick Hassan wakil peserta Mancanegara.