Selasa, 26 April 2011

SENI DORONG KESADARAN BERMAKNA


Oleh: HE. Benyamine

Diam, kata yang seakan menjadi penuntun sekaligus ekspresi utama pada pergelaran malam seni (23/4/11) yang diselenggarakan Sanggar Ar-Rumi Martapura dan KNPI Kabupaten Banjar yang didukung oleh STAI Darussalam Martapura, Kelompok Halilintar Banjarmasin, dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Banjar di Gedung Balai Pemuda Barakat. Diam dengan berbagai ungkapan bentuknya yang terungkap dalam dramatisasi puisi, tari, dan teater monolog secara tersirat menjadi tema pergelaran tersebut. Diam bukan berarti tidak bergerak, atau kehilangan mimpi-mimpi yang menjalar dalam pikiran dan hati, yang mampu terus mendorong untuk mempertahankan daya hidup meskipun terus mengalami hegemoni dan pembungkaman Selanjutnya klik disini

Senin, 21 Maret 2011

BANJAR BUKAN KESATUAN ETNIS TETAPI KESATUAN POLITIK


Oleh Mudjahidin S


PENGANTAR:

Pernah terjadi dalam percaturan politik di Nusantara ini, masalah perbedaan agama dan etnik dijadikan sebagai kendaraan politik oleh kalangan elite politik untuk menguasai daerah. Contohnya di KalTeng bahkan sebelumnya di Kalimantan Barat dan Pada tahun 2002 menyusul konflik berdarah antar etnik-etnik oleh kalangan tertentu telah dicoba mencetuskan konflik antar agama,di kobar2kan atas nama Agama terutama antara penganut agama Islam dan penganut agama Kristen di samping antara etnik Banjar yang disebut di Kalimantan sebagai Urang Banjar dan etnik Dayak.dan bahkan soal sepele akhir2 yg lalu di Tarakan/Kaltim di bawa-bawa soal suku-untungnya tidak separah tragedi Sampit Alhamdulilah, kita hal-hal seperti itu jangan lagi terulang di Bumi Kalimantan ini, jangan sampai kita cepat terpengaruh oleh isu-isu yang menyeret kita perpecahan, zaman sekarang ini kita semua Waspada karena Budaya Dajjal sudah turun di bumi ini Selanjutnya Klik disini ...

Selasa, 15 Februari 2011

BEKANTAN DIRUNDUNG BIMBANG (Tanggapan Tulisan Syarifuddin R)



Oleh: HE. Benyamine

Bekantan dirundung bimbang, sepertinya memang begitu keadaannya, karena betapa masih kurangnya alasan dalam pembangunan (rencana) patung tetapi juga pandangan terhadap keberadaan bekantan itu sendiri yang seakan dapat digantikan dengan patung saja sebagai bukti bahwa hewan jenis ini pernah dinyatakan paling banyak populasinya di Kalimantan Selatan sehingga menjadi pijakan menjadikannya sebagai maskot fauna daerah, yang meskipun punah nantinya. Selanjutnya klik disini ...

Selasa, 04 Januari 2011

Nalam Buat Yessika


Arsyad Indradi

Nalam Buat Yessika

Adakah lebih sanggama dari putik bunga
Dari kupukupu beribu warna
Kelopak romansa aroma semarainya
Tapi tibatiba jadi terbang kepak melayanglayang
Taman sukma jadi bayangbayang

Sejak kita di beranda itu Yessika
Kita pun tak pernah mampu menutup rawi kita
Yang tak habis ditulis dendamnya rindu
Saat berkaca pada jatuhnya tetes airmata
Yang selalu luput menafsir bahasa cinta

Sui Lan bisikmu lalu menatap cakrawala
Siapa meniti awangemawan yang berarak
Hatiku berkacakaca :
Duhai dua jiwa satu raga, satu jiwa dua raga
Tangan kita erat bergenggaman

Lalu kita pun melabuh sampan
Dari Barito dari Batanghari
Lalu kita dendangkan nalam kita :
( Sui Lan ) : Tebing mana menyimpan selaksa duka
Seloka luka
Kayuh bersimpuh
Mencari kemana riak arus pupus
( Yessika ) : Karang mana menyimpan selaksa duka
Seloka lara
Rindu yang luruh
Mencari kemana tempat berteduh
( Sui Lan ) : Barito mengalirkan dalamnya anganangan
Sungai tak ada lagi persinggahan
Putri junjung buih bermandi buih
( Yessika ) : Batanghari mengalirkan dalamnya impian
Sungai tak ada lagi tepian
Putri mayang bermandi mayang

Konon sampan itu Yessika masih juga berlabuh
Seperti tiada pernah sangsi mencapai muara ”DAMAI”
Aku masih ingat sayang kau menarik napas panjang

kssb,2 Jan 2011
(”DAMAI” = DAM-AI =Dimas Arika Mihardja –Arsyad Indradi)

Klik disini Melihat Komentar - Komentar ...

Senin, 03 Januari 2011

Jalan Kembali Membentang

oleh Arsyad Indradi

Jalan Kembali Membentang

Mengosongkan bilik hati jadi ruang hampa
Jadi altar riwayat usia
Jiwa menyulut malam pijar memancar
Menyibak awan dalam jagat kelam
Api harapan dalamanya anganangan

Debar tumpah kenangan resah
Saat puput terakhir membuka gerbang kehidupan
Menatap antara keduanya masihkah ada cinta
Altar basah airmata sisigan impian
Tuhan beri aku lagi jalan

Beri aku zikir pada musafir
Beri aku doa pada fakir
Biarkan aku gila mengejar cahaya kerinduan
Mengejar cahayamu tuhan

“Enampuluhsatu lilin merah tiuplah
Padamkan ruang hampa padamlah segala dendam
Kembali melangkah jejak perjalanan panjang
Kaukah kado masa depan sayang”

kssb,31 Des 2010 (Mlm Ultahku ke-61)

• Kaos Hy-Munk Banjarmasin, Kayla Untara, Elis Tating Bardiah dan 16 lainnya menyukai ini.

Komen :

Eva Irine Irma Suryanie :
Smoga di Tahun 2011, pian ttp sehat wal afiat & ttp berkarya


Tuditea Masditok :
Tuhan beri aku lagi jalan...di setiap pertigaan...di setiap perempatan...genggam aku dalam kehangatan...di antara dzikir dan sujud di tengah malam....salam hormatku abah...:)

Eva Irine Irma Suryanie :
Kami sekeluarga " Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Smoga panjang umur & tetap sehat selalu "

Hamami Adaby mat ulang tahun buat Arssyad In, Ben juga nitip pesan supaya tapakkur menatap kelambu malam, hahaha


Harie Insani Putra :
Salam sukses...maju terus pantang mundur...


Dimas Arika Mihardja
JALAN KEMBALI MEMBENTANG
: untuk Arsyad Indradi

kerikilpasiraspal telah merelakan jadi jalan, abah
terbentang lapang di depan rumah ke luas sajadah
...butirbutir pasir di laut telah merisalahkan jejak sui lan
bibirnya yang basah dijilat lidah riak dan ombak
di pantai ini sementara bersandar sampan dan perahu rindu
bersilancar menuju pulau paling jauh

lorong gang dan aneka persimpangan
tak lelah merisalahkan sketsa perjalanan
jejak kaki, tapak hati, gelegak sansai
berlari menuju puncak bukit menjadi cericit pipit
yang menyambut cahaya mentari
yang berdendang kompangan di dada sepi

abah, ayolah kembali melangkah
kembali mengunyah kuaci biji matahari
kembali bergandengan tangan dengan sui lan
kembali merajut luka menjadi puisi
kembali menyanyikan wangi melati
kembali ke kesadaran diri

jalan kembali terbentang
jalan kembali memasuki ruang pertapaan
jalan kembali menapaki kehidupan
jalan kembali ke kesunyian
jalan kembali membentangkan kegilaan
jalan kembali ke jalan paling jalan
kembali ke asal muasal kejadian

bengkel puisi swadaya mandiri, 2011


Monique Wien'z :
waaaah..maaf terlamat ini..selamat ulang tahu bang arsyad..semoga di tahun yang akan dilewati,langkah abang senatiasa penuh keberkahan dari ALLAH SWT dng limpahan berkah kesehatan yang baik,rejeki yang barokah dan sisa umur kian penuh rahmat..amin... *salam hormat penuh sayang*

Tato A Setyawan :
selamat ulang tahun abah, panjang umur dan selalu sehat, terus berkarya


Faradina Izdhihary :
Abah, selamat milad. Mohon maaf telat... maklum liburan malah repot nganter anak2 dan mudik. Ini baru sj pulang

Rama Prabu :
Beri aku zikir pada musafir
Beri aku doa pada fakir
Biarkan aku gila mengejar cahaya kerinduan
Mengejar cahayamu tuhan

...makrifat para sufi dari tanah kalimantan....rahayu...rahayu...!

Rini Intama :
kutemani engkau meniupkan lilin merahmu itu
dengan cinta yang tersimpan di dada
kubisikkan engkau, Selamat ulang tahun semoga sehat dan selalu dalam lindunganNYA, Amin salam sayang dan hormatku

Anggie Sri Wilujeng :
Biarkan aku gila mengejar cahaya kerinduan
Mengejar cahayamu tuhan
Semoga sinarNya senantiasa mengiringi kedamaian Om Arsyad.

Wilu Ningrat :
‎^^^
HAIKU "INDRADI"

flamboyan senja
semburatkan tembaga
...akulah waktu!
__________________________
selamat mensyukuri milad ye Om

Nani Tandjung Full :
selamat ulang tahun Bro, nanti,jika diberi waktuNYA, aku menyusul di agustus hehehehe sehat selalu ya.....


Sulis Gingsul Semoga :
Arsyad Indradi panjang usia dan sehat selalu


Kayla Untara usia ini merekam jejak tapak selama enam puluh satu tahun...
biarlah lilin tak pernah kau tiup dan apinya tak padam
sebagaimana nyala di dadamu dan hatimu...

Sainul Hermawan : menggetarkan




Saidy Poetra Panambayan
selamat ultah Pak Arsyad.I. Semoga sehat dan bahagia selalu, serta tetap selalu berkarya.


Arsyad Indradi :
Terima kasih sahabat-sahabat batinku.Salam sayang semuanya semoga kita selalu dalam lindungannya dan tak pernah surut semangat berkarya.Amin.


Wah, ketinggalan ni, dah Maret baru lihat dan baca puisi ultah abah, semoga
bahagia ter us ya, salam De

Minggu, 02 Januari 2011

Sekuntum Pagi Untuk Arsyad Indradi




oleh Rama Prabu

: arsyad indradi [kado ulang tahun]

malam mana yang tak melunaskan perjalanan panjangmu*)
sedang fajar pagi menghitung jumlah sajakmu
lewat jendela kamar dan hamparan kebun bunga
sebelah rumah riwayat kata-kata

nun ditimur
dibalik sutra halimun*)
gugusan bintang gemintang turun dirambutmu
membasuh tetes risau dari rindu
menyemayamkan jejak putih di uban wangimu

wajah senjamu selalu bilang bagaimana esok hari
aku mesti merangkai tubuhmu**)
menjahit kelopak sunyi lewat isyarat seribu burung terbang
lewat kalalatu yang mayang dipunggung kenang
bunga kertas yang disulam jadi romansa
dan berharap aku simpan di jambangan cinta

kini, tapak kaki dijalan puisi telah mendulang kasih abadi
ritus-ritus putaran menetap dibebatu sunyi
karena wajah senjamu telah berkata:
dibalik rangkaian bahasa yang berlimpah maka disitulah dusta cinta ***)
dimana kita menatah tebingnya jadi tiang tebu merah
rahasia birahi seorang majnun ditaman kasih

note:
*) puisi sekuntum pagi, arsyad indradi, 1981
**) puisi bunga kertas, aryad indradi, 1973
***) puisi mendulang cinta, arsyad indradi, 1993

Bandung, 30 Desember 2010 Melihat Komentar - Komentar klik disini ...

Kamis, 09 Desember 2010

MENIKMATI PUISI PENYAIR KALIMANTAN SELATAN DI DUNIA MAYA

Bagian 1

Oleh Hamberan Syahbana

Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi yang subur bagi pertumbuhan dan perkembangan perpuisian. Sehubungan dengan hal tsb saya menganggap perlu berbagi pengalaman dalam menikmati puisi-puisi penyair tsb dalam essei Menikmati Puisi Penyair Kalimantan Selatan di Dunia Maya. Dalam essei bagian pertama ini kita akan menikmati 5 buah puisi dari 5 orang penyair Kalsel.
1. Puisi Kasidah Cinta karya Burhanuddin Soebely dari Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan
2. Puisi Mendulang Cahaya Bulan karya Arsyad Indradi si Pengair Gila dari Kota Banjarbaru
3. Puisi Suatu Ketika di Taman Cinta karya Jamal T. Suryanata dari Pleihari Kabupaten Tanah Laut Selanjutnya klik disini

Minggu, 05 Desember 2010

Sapu Haduk

Barikin salah satu desa di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini, penduduknya boleh dibilang sangat kuat memegang tradisinya. Terutama usaha memproduksi ”sapu haduk” sebagai mata pencaharian sehari-hari. Sapu haduk (sapu ijuk) yang bahannya mudah didapat yakni tak jauh dari lingkungan rumahnya yaitu pohon ”hanau” atau enau,.aren, kabung (Arenga saccharifera). Pohon hanau ini disamping menghasilkan gula aren juga ”rambut ” batangnya berupa ijuk diambil untuk bahan pembuatan sapu haduk atau juga pembuatan tali haduk. Bagi perajin sapu haduk punya cara yang khas dalam pengambilan ijuk dari batang hanau agar jangan sampai terhambat pertumbuhan hanau.itu. Disamping menghasilkan sapu haduk yang berukuran normal ada juga bentuknya lebih besar tapi tak seberapa banyak . Kalau saya menyebutnya bentuk yang besar ini ”sapu haduk raksasa”, Tangkai sapunya terbuat dari kayu bulat dengan ditatah secara sederhana kemudian dicat beraneka warna. Menjualnya biasanya bersama mainan anak-anak yaitu kuda-kudaan dan tali haduk berupa kedai di pingggir jalan ( depan halaman rumah pemiliknya). Orang-orang yang berkendaraan motor yang melintas baik dari Banjarmasin mau pun dari Hulu Sungai akan menyinggahi kedai ini untuk membeli sapu haduk. Sapu haduk ini sangat laris karena keperluan rumah tangga. Warung-warung di Kalsel yang menjual sapu haduk umumnya produk dari Barikin. Sapu haduk ini lebih bagus dan tahan lama dipakai dari pada sapu yang terbuat dari plastik (cepat keriting) yang datang dari Jawa. Menurut kepercayaan orang Banjar bahwa sapu haduk dan tali haduk ini berfungsi penangkal ”hantu” seperti ”kuyang”. Sungguh kita berbangga bahwa orang Banjar selalu memakai sapu haduk sehingga produk tradisional Banjar ini tetap lestari *** Arsyad Indradi


Selasa, 30 November 2010

Kuda-Kudaan Kerajinan Rakyat Barikin

Barikin adalah salah satu Desa dalam wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Walau pun globalisasi terus bergulir dengan dahsyatnya namun bagi rakyat Barikin tradisi turun temurun masih erat dipegang tanpa pernah longgar. Tradisi ini adalah memproduksi mainan anak-anak yakni "kuda-kudaan" dari bahan kayu yang relatif murah dan dikerjakan secara manual, tapi sungguh luar biasa menariknya,tak kalah dengan mainan produksi pabrikan. Mainan Kuda-Kudaan ini dijual disepanjang tepi jalan (di halaman rumah pemiliknya ). Setiap hari mobil yang melintas baik dari arah Banjarmasin mau pun dari Hulu Sungai yang paling hulu, ada saja yang turun membeli mainan ini. Sangat menggembirakan adalah pembelinya ada juga ibu-ibu pejabat atau orang-orang kaya. Harga seekor kuda ini mudah terjangkau,kudanya kuat tahan bantingan,warnanya beragam dan menarik,pokoknya artistiklah. Aku pikir andaikata mainan kuda-kudaan ini merupakan salah satu mainan di sekolah Taman Kanak-kanak di Kalsel ini akan lebih membantu ketangkasan bagi anak-anak TK, dan juga pemerintah daerah ikut menujnang dan melestarikan kelangsungan hidup usaha kerajinan rakyat ini. Apa kabar Bapak Gubernur,Bapak Bupati dan Walikota, Dinas Pendidikan, Dinas Perindak, Dinas Porbudpar, apakah pernah singgah di kedai “kuda-kudaan “ Barikin ?** Arsyad Indradi.



Kamis, 25 November 2010

PELAJARAN SENIBUDAYA SEKOLAH MENENGAH DI KALSEL MEMPERIHATINKAN.

Sejak dulu sampai sekarang sekolah menengah di Kalsel sangat sedikit memiliki guru mata pelajaran seni budaya, sehingga mata pelajaran Seni Budaya banyak diberikan kepada guru yang bukan faknya. Jadi wajar jika guru tersebut sering mendapat kesulitan untuk membimbing, memberi contoh dalam praktik mata pelajaran tersebut. Apa lagi jarang sekali ada penataran, workshop atau pelatihan.. Tetapi ada juga sekolah yang maju seni budayanya walau pun mata pelajarannya dipegang oleh guru mata pelajaran lainnya, karena guru tersebut.menyenangi seni dan selalu bergaul dengan pakar seni atau seniman, rajin mengikuti setiap perubahan kurikulum, aktif menyusun RPP. Kepala sekolah dan orang tua murid ikut membantu dan menunjang keperluan kemajuan seni budaya di sekolahnya.Selanjutnya klik disini

Minggu, 14 November 2010

Kritik Sang Penyair Gila

Cuplikan Harian Media Kalimantan, 9 Nov 2010.
........................................................
Salah satu seniman yang getol menyuarakan isu lingkungan ini adalah Arsyad Indradi. Ia cukup dikenal luas di kalanagn seniman, baik tingkat daerah maupun nasional. “ Saya sudah merasakan adanya ketidakbersahabatan alam dengan manusia itu yang membuatnya menciptakan puisi dengan judul : Tafakur Memandng Waduk Riam Kanan”. Puisi tersebut pernah dibacakan pada sebuah even di halaman Kantor Pemkab.Banjar tujuh tahun lalu,namun tidak ada tanggapan. “Saya sebenarnya hanya memperingatkan bukan mengkritik”, ungkap Arsyad kepada MK dalam perbincngan ringan di kawasan Lapangan Murjani Banjarbaru,Senin (8/11 hendra).

Tafakur Memandang Waduk Riam Kanan

memandang permukaan wajahmu begitu tenang
langit yang terapung di atas membiaskan spektrum
kehidupan dan mengalir dari bibir bendunganmu
gemuruh di tubuh sungai
entah berapa kampung, dusun, kebunkebun, ladangladang
dan hutanhutan yang merelakan kau lahir
dengan sempurna di lembahlembah hijau
gununggunung yang menopang tubuhmu
dari segenap penjuru yang tak pernah terdengar keluh
dan orangorang tak pernah sepi datang ke sini
menimba kehidupan yang kau berikan
aku memandang pucukpucuk pinus yang berderai
entah apa terbaca hatimu
semacam memendam ribuan rahasia yang belum pernah
siapa pun mau menerjemahkannya
atau orangorangkah yang tak mau jauh berpikir sampai ke sana
tahunketahun senantiasa musim tak menentu
yang selalu lepas dari prakiraan cuaca
dan sungguh kau semakin merenta jua
guratanguratan semakin nampak di keningmu
karena lukaluka ini semakin menganga
aku pernah mengingatkan hal ini kepada orangorang
seperti yang pernah kau ajarkan padaku
tapi mungkin kepercayaan ini begitu purba
di halayak zaman penuh pesona
masih juga wajahmu begitu tenang
tapi ombakombak di wajahmu terus juga melayarkan
bayangbayang kegelisahanku
pada bendunganmu yang meneteskan darah di mataku
dan gemuruh di tubuh sungai
meluap sampai kesegenap penjuru
karena gunung tak berhutan lagi
bukitbukitbatu telah menjadi material jalanan
rumah pemukiman atau gedunggedung bertingkat
membayangkan kau tak mampu lagi menampung
guyuran hujan yang berkepanjangan dan loncatan air
dari lerenglereng perbukitan sedang bendunganmu
kian keropos dimakan zaman
membayangkan peristiwa duka yang tak hentihenti
entah berapa kampung dusun bahkan kota ini
dengan penghuninya akan musnah tiada tersisa
dalam muntahan bendunganmu yang teramat mengerikan
membayangkan sebuah kota yang bernama serambi mekah
dalam riwayat yang menyedihkan

masih tersimpan dalam ingatan
sebuah tangis pertama ketika kau lahir
menulis hari kelahiranmu di tebingtebing gunung
dan menulis perhentian hidupmu di lembahlembah
langit dan pepohonan hijau dan bukitbukit batu
saksi sejarah dari sumber hidup dan kehidupan
tapi juga sumber dari petaka
orangorang selalu meratap setelah bencana
tapi adakah yang peduli mengapa terjadi bencana
setiap aku memandang permukaan wajahmu yang biru
dengan segala pinusmu yang belederu
Tuhan sesungguhnya kau tak ada niatan murka pada negeriku


Banjarbaru, 2001

Rabu, 29 September 2010

BUDAYA MEMBACA CABUT RASA TAKUT KEBEBASAN

Oleh: HE. Benyamine

Menulis sangat mudah sebagaimana beberapa buku tentang penulisan yang memberi motivasi, sebenarnya mengasumsikan suatu keadaan dimana masyarakat telah hidup dalam budaya membaca. Membaca adalah kebutuhan pokok. Pendidikan lebih cenderung didekati dengan pendekatan pendidikan orang dewasa (andragogi), selain pendekatan pedagogi yang berlangsung saat ini. Sehingga, penekanan yang sering muncul adalah budayakan membaca; sebagai syarat yang sangat penting untuk mudah menulis. Budaya membaca inilah yang menjadi tantangan dalam penerapan isi buku-buku tentang motivasi menulis tersebut, yang perlu didengungkan dan didorong tumbuh berkembangnya budaya membaca.
Berdasarkan beberapa hasil riset sebagaimana diungkapkan Dr. Stephen D. Krashen bahwa kita belajar menulis lewat membaca, yang menunjukkan betapa pentingnya mambaca dalam memudahkan untuk menulis, karena membaca merupakan perbuatan menulis di otak. Hal ini juga tergambar dalam bukunya Jean-Paul Sartre, Kata-Kata (2000), dimana membaca sudah dibudayakan oleh keluarganya, terlebih kakeknya yang selalu memberikan berbagai buku dan tulisan, sehingga saat pertama menulis Sartre merasa sebagai plagiat karena banyak tulisan yang mengendap di otak dari hasil bacaan yang membudaya.
Budaya membaca para pendidik (dosen/guru) tentu sudah seharusnya telah berkembang, sebagai kelompok masyarakat yang senang membaca dan menjadi kebutuhan, sehingga dapat menularkan pada anak didiknya. Sudah seharusnya, kelompok masyarakat yang berprofesi sebagai pendidik ini sudah berada dalam budaya membaca, sehingga kegiatan membaca sudah menjadi habit sebagaimana setiap hari melakukan kegiatan mengajar. Buku-buku yang memotivasi menulis menjadi penting dibaca oleh kalangan pendidik dan peserta didik, yang tidak perlu (harus) diikuti adalah gaya penulisannya. Melalui buku-buku motivasi penulisan tersebut, sangat jelas tergambar bagaimana pentingnya budaya membaca, yang menjadi syarat penting dan utama dalam menjadikan kegiatan menulis sebagai kebiasaan (habit) sebagaimana didefinisikan Stephen Covey sebagai titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan keinginan (desire).
Harapan mempunyai kemampuan menulis sangat mudah, tidak serta merta dapat diperoleh hanya dengan membaca buku-buku tentang menulis, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sebab-sebab yang diuraikan dalam buku tersebut hingga bisa menulis sangat mudah yang perlu menjadi perhatian dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan perbuatan berdasarkan harapan (raja’) lebih tinggi kedudukannya daripada perbuatan berdasarkan takut (khauf), sebagaimana Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin ungkapkan, yang menegaskan bahwa sebab-sebab yang menguatkan kepada harapan tersebut harus dijaga dan dijalani, karena bila sebab-sebab tersebut hilang maka harapan tersebut tidak ubahnya sebuah angan-angan belaka. Tentu saja sebab-sebab yang menguatkan harapan dalam mudah menulis adalah budaya membaca, yang harus dijaga dan dijalani sebagai budaya.
Membangun kesadaran tentang potensi diri, sebagaimana gagasan Paulo Freire tentang pendidikan yang benar-benar membebaskan, yang mencabut parasit adanya perasaan takut kebebasan (fear of freedom) dalam masyarakat, juga merujuk pada budaya membaca. Jika budaya membaca tidak ada, maka sistem pendidikan apapun akan menjadikan orang terjebak pada sikap fanatik dan tertanam dalam bangunan yang menindas tapi tidak mau keluar karena takut keruntuhannya. Sehingga, perasaan takut kebebasan (fear of freedom) masih menjadi penghambat yang laten, yang memang sangat sulit untuk didobrak.
Jadi, menulis sangat mudah merupakan pernyataan yang benar namun bergantung pada syarat penting akan budaya membaca. Kemudahan dalam menulis merupakan suatu proses yang panjang dan kerja keras, yang diikuti oleh berkembangnya budaya membaca pada diri seseorang. Banyak orang yang setelah membaca buku tentang motivasi menulis langsung tercerahkan, dan berpikiran bahwa menulis itu memang mudah, sebagaimana mudahnya membaca buku tersebut, tetapi tanpa melihat apa yang menjadi sebab kemudahan itu hanya membuat orang terbuai. Sudah seharusnya profesional pendidik (dosen/guru) untuk terlibat mendobrak tembok perasaan takut kebebasan dalam masyarakat, dengan mendorong tumbuh dan berkembangnya budaya membaca.

(Radar Banjarmasin, 12 April 2010: 3)

Jumat, 07 Mei 2010

MUSEUM SEBAGAI SALAH SATU SARANA UNTUK MENGEMBANGKAN MUATAN LOKAL

Oleh : Drs. Sirajul Huda HM

Pada sebuah seminar ada salah seorang peserta yang juga adalah seorang guru pada sekolah menengah mengemukakan bahwa pada saat ini banyak para murid sekolah yang sudah tidak peduli lagi terhadap budayanya sendiri. Mereka lebih mengenal siapa itu tokoh Peterpan, Raja, atau Padi dari pada siapa Anang Ardiansyah, Ajim Ariyadi,Syamsiar Seman, Bachtiar Sanderta, Ajamudin Tifani, Hijaz Yamani, Justan Aziddin, Rustam AA, Arsyad Indradi dan banyak seniman daerah Kalsel lainnya. Padahal mereka-mereka inilah sebenarnya yang menjadi tokoh musik, teater dan sasterawan di banua Banjar ini. Jauh sebelum lahirnya Ariel. Ian Kasela dan yang lainnya, Anang Ardiansyah sudah berjaya mempopulerkan lagu-lagu Banjar lewat Orkes Rindang Banua dan Anataria. Ketika Rendra masih menjadi crew panggung Ajim Ariyadi sudah menjadi pemeran utama dalam pergelaran teater di Yogyakarta. Apalagi kalau kita berbicara masalah kesenian tradisional kepada generasi muda. Bagi generasi muda hal semacam itu dianggap kampungan, sudah bukan zamannya lagi. Zaman telah berubah kita harus mengikuti perkembangan zaman. Sementara itu diakui atau tidak memang sedikit sekali para budayawan di daerah yang mau menulis tentang budaya kita. Mereka berpendapat bahwa menulis untuk apa kalau tidak bisa diterbitkan. Walaupun dapat diterbitkan kemana mereka harus menjual, sementara sekolah untuk membeli buku harus dari penerbit yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Ironis memang. Disatu sisi sekolah memang memerlukan untuk kepentingan muatan local disisi lain buku-buku untuk menunjang proses belajar mengajar untuk muatan local tidak mudah untuk didapatkan.
Kalau sudah demikian apa yang dapat dibanggakan oleh banua kita ini. Hutan sudah gundul, sungai sudah keruh dan kian punah oleh karena pembangunan fisik yang tidak terkendali. Batubara habis dikeruk untuk melayani syahwat kapitalisme, sedangkan budayanya tercerabut dan tercabik-cabik dari pola pikir, perasaan dan pola laku sebagian besar dari pendukungnya. Berbeda dengan masyarakat Jepang yang walaupun ternasuk dalam Negara yang modern namun sikap dan pandangannya terhadap budaya tradisional tidaklah luntur.
Mereka sadar bahwa sejarah perjuangan hidup bangsanya mewarisi kultur unggul kepada generasi mudanya. Lewat kebudayaan inilah bangsa Jepang bisa jadi jaya. Kabuki yang telah berumur ratusan tahun masih digelar dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Upacara minum teh masih terpelihara hingga saat ini. Masyarakat Jepang banyak yang bepergian keluar negeri dan ini memang dianjurkan oleh pemerintahnya. Tapi apa yang dibawa mereka kembali kenegaranya. Tidak lain adalah produk-produk mereka sendiri.
Bagaimana dengan bangsa kita atau kita persempit dengan masyarakat di daerah kita. Karena banyak termakan iklan di televisi khususnya anak-anak muda, mereka merasa tidak lagi keren kalau tidak memakai levis atau merasa tidak gaul kalau tidak biasa memakan pizza.
Untuk mengenalkan kembali budaya, khususnya budaya daerah salah satu anternatifnya adalah “museum”. Museum merupakan jendela budaya daerah di mana museum tersebut berada. Setiap orang asing yang datang mereka pasti mempertanyakan dimana museum, karena dengan melihat museum mereka akan lebih mengenal budaya daerah setempat.
APA ITU MUSEUM.
Museum adalah sebuah lembaga permanent non profit dalam pelayanan masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk public (umum), dimana pengadaan, konservasi, penelitian, penyajian (koleksi), hanya untuk study, pendidikan dan kesenangan (rekreasi) dan mengenai bukti material manusia dan lingkungannya.
Selain itu museum merupakan suatu tempat penting bagi pelestarian benda budaya dan alam yang dijadikan koleksi, di rawat, di jaga dan disajikan bagi kepentingan umat manusia sekarang dan masa yang akan datang.***