Lumpur Lapindo

Jumat, 23 September 2011

Kenduri di Bukit Meratus


Dimas Arika Mihardja Menari Mandau

Arsyad Indradi

Kenduri di Bukit Meratus

Riangriang semesta hyang di bawah bulan di bawah bintang
Hembus napas angin malam
Titian mandurisa buka padang mandurasi
Buka pintu hati merah buka pintu hati putih
Rubuh rebah kayu talikan membuka seluasluas jagat
Dangsanak, Dam beta empunya diri dari tanah pilih
Tanah sekencurjariangau lempung meratus

Di gigir bukit berdiri kaki tunggal
Mendamak anak sima dimasa silam mengayau bumburaya
Menato rawi usia di batubatu punggung bukit
melayat sekian lengser matahari menutup padang senja di pancur airmata
menyimpan suka di guasukma melarutkan lara di guntungluka

Di batas antara rimba dan perbukitan
Dam beta empunya diri gerincing gelang bawu
Menyayapkan ruh limapuluhdua bulu anggang lalu diterbangkan
Puncak bukit membuncah langit

Dinihari
Halimun di parangmaya surya
Balianbalian pada terjaga dari balai adat pusaka
Bertuak di asap kemenyan putih melayang ke puncak bukit

Dam empunya diri dari tanah pilih lempung meratus
Bersayap limapuluh dua bulu anggang
Surup membuka lembayung surya pagi


kssb, 2011
Kado ultah dari Bukit Meratus buat Dimas Arika Mihardja (Dam)


Catatan :
Riangriang = ujaran (bhs dewa)
hyang = Dewa penguasa alam
Titian mandurisa = jembatan (jalan) panjang.
padang mandurasi = padang yang luas
kayu talikan = sejenis pohon beringin
Dangsanak = saudara (kekerabatan)
sekencurjariangau = ungkapan ada tali hubungan kekeluargaan
guntung = anak sungai
gelang bawu = gelan para balian
parangmaya = sejenis santet
Balian = dukun/orang sakti suku dayak
Mendamak = menyumpit/ sumpitan
anak sima = hantu sebangsa tuyul (mengisap darah)
mengayau = memotong kepala secara sembunyi
bumburaya = sebangsa raksasa pemakan mayat
rawi = riwayat

Cahya Surya Mengapung di Pasar Terapung

Arsyad Indradi

Cahya Surya Mengapung di Pasar Terapung
: A – Y

Riak arus sungai Martapura memanggil surya
Gemerlap di puncak ombak mengombak
Cahya di rerumpun bunga ilung mengapung
Merkah didendang kayuh jukungjukung

Dari penjuru sungai kehidupan pun lalu merapat
Melahirkan pasar terapung di dermaga Lok Baintan
Tiada letih mengikat angkat budaya leluhur
Tanah Banjar nan elok dan masyhur

Aku merasa tiada pernah merasakan lagi senja
Pada diriku disini di subuh ini katamu
Fantastik pandangan mata berenang di kaca surya
Aku suka perempuanperempuan murni bersahaja
Di bawah tudung tanggui pesona adat budaya

Kita pun masih mengapung di atas sungai
Seperti tiada mau beranjak dari usainya pasar terapung
Murung bergayut di bola mata
Mengantar satusatu jukung lepas dari dermaga

Kau lalu menyibak air memecah sunyi
Kita merapat membangun dermaga di hati bisikmu
Membangun pasar terapung di alir darah kita
Nafas seanginangin pagi di nafas
Agar senantiasa fantasiaku bermakna sampai ujung usia

Banjarbaru, 19 Sep 2011


Arsyad Indradi - Yvonny De Fretes ( di Pasar Terapung Lok Baintan Kabupaten Banjar Kalsel,seusai Aruh Sastra VIII Kalsel di Barabai HST, 16-19 Sep 2011 )